Sekolah Berbasis Fitrah

Wahai para penyelenggara sekolah ! Sejatinya sekolah itu bukanlah perusahaan untung rugi, tetapi penegak peradaban terbaik untuk dunia dan akhirat nanti.

*Penerapan pendidikan berbasis fitrah pada sekolah formal

Oleh: Abdul Kholiq
(member HEbAT Semarang)

💡 Sebenarnya menumbuhkan fitrah anak hanya dapat dilakukan di rumah oleh orangtua masing-masing. Karena rumah adalah miniatur peradaban bagi anak-anak. Menumbuhkan fitrah ananda membutuhkan kesabaran dan ketelatenan tingkat tinggi, dan akan mengalami kesulitan jika diwakilkan kepada orang lain. Sebab menumbuhkan fitrah anak sifatnya alamiah dan harus dilandasi dengan kasih sayang dan ketulusan yang sangat dalam.

Jika pendidikan berbasis fitrah ini diterapkan pada pendidikan model persekolahan, tentulah akan mengalami banyak kendala, diantaranya:

1⃣ Peran ayah dan ibu tak tergantikan oleh guru yang ada di sekolah.

2⃣ Seandainya ada guru yang dapat menggantikannya, pastilah langka sekali dan pembelajarannya akan tampak tidak tertib dan tidak teratur dari segi pandangan sekolah formal.

3⃣ Perbandingan guru dan murid yang tidak proporsional, satu guru mengasuh 20-30 murid, jelas tidak mungkin guru akan dapat menumbuhkan fitrah unik masing-masing murid, dengan menggunakan kurikulum personal.

4⃣ Sistem persekolahan menuntut adanya indikator ketuntasan pembelajaran yang akurat, namun hal ini sulit dilakukan karena fitrah sulit diukur dengan tampilan angka-angka terutama fitrah keimanan. Tidak semudah mengukur kemampuan kognitif anak seperti calistung, hafalan, dll.

5⃣ Kurikulum sekolah menuntut adanya kurikulum yang teratur, urut, dan terstruktur, namun penumbuhan fitrah anak banyak yang bersifat spontanitas.

6⃣ Adanya kurikulum lain yang tidak berbasis fitrah yang harus diterapkan, sehingga sering berbenturan dengan fitrah anak.

📎 Padahal di satu sisi keadaan masyarakat modern menuntut orangtua “terpaksa” harus menyekolahkan anaknya karena orangtua terpaksa pula harus meninggalkan mereka untuk bekerja. Di sisi lain untuk mendidik anak-anaknya di rumah tanpa bersekolah membutuhkan keberanian tingkat super tinggi pula. Apa kata dunia jika anak jaman now tidak sekolah

Lalu…
Apakah pendidikan fitrah dapat diterapkan pada pendidikan model persekolahan?

Jawabnya bisa …❗, namun dengan berbagai persyaratan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi oleh orangtua, yaitu:

1⃣ Orangtua tetap menjadi penaggung jawab utama pendidikan anaknya. Bukan sekolah.

2⃣ Hubungan orangtua terhadap sekolah bukan seperti konsumen dan produsen, tetapi kemitraan.

3⃣ Orangtua tidak dapat semena-mena menuntut sekolah atas permasalahan pendidikan anaknya.

4⃣ Orangtua harus memahami dan menyadari program sekolah, terutama ketika masa euphoria dalam proses recovery fitrah anak.

5⃣ Orangtua harus terlibat secara intensif dalam pendidikan anaknya di sekolah.

6⃣ Orangtua tidak menganggap sekolah sebagai tempat bengkel moral, atau pentipan anak, atau menyekolahkan anak ibarat seperti mencucikan baju ditempat laundry, masukkan, bayar, beres.

7⃣ Orangtua menjadikan sekolah hanya sebagai fasilitator bagi orangtua dalam mendidik anaknya.

8⃣ Orangtua bersedia menanggung biaya pendidikan bagi anak-anaknya di sekolah.

Dan pihak penyelenggara sekolahpun juga harus melakukan hal-hal berikut:

1⃣ Melakukan penyadaran kepada orangtua tentang amanah mendidik anak yang berada pada pundak orangtua masing-masing, bukan sebatas mewajibkan hadir pada parenting bulanan di sekolah.

2⃣ Menyusun dan melakukan program peningkatan keterlibatan orangtua secara intensif dalam proses pendidikan anak disekolah.

3⃣ Menyepakati pembagian tugas mendidik, mana yang menjadi tugas sekolah dan mana yang menjadi tugas orangtua.

4⃣ Memfasilitasi orangtua untuk mampu merancang kurikulum personal untuk setiap anaknya melalui pelatihan-pelatihan.

5⃣ Melibatkan orangtua sebagai relawan pada bidang pembelajaran tertentu dan pada waktu tertentu.

6⃣ Melakukan pengukuran untuk evaluasi terhadap keterlibatan orangtua agar dapat dievaluasi dan ditingkatkan keterlibatannya.

7⃣ Sekolah melakukan recovery fitrah bagi anak yang tidak tumbuh fitrahnya pada masa emas sebelumnya.

Wahai para orangtua penyekolah anak …!
Sadarilah bahwa di pundakmulah beban amanah pendidikan anak-anakmu…
Kaulah yang lebih dahulu ditanya tentang pendidikan anakmu sebelum anakmu ditanya tentang baktinya kepadamu.

Wahai para penyelenggara sekolah …!
Sejatinya sekolah itu bukanlah perusahaan untung rugi, tetapi penegak peradaban terbaik untuk dunia dan akhirat nanti.

🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹

Marilah kita bangun kerjasama orangtua dan sekolah secara harmonis, bukan antara buruh dan majikan, bukan antara konsumen dan produsen, bukan antara customer dan teknisi bengkel, tetapi kerjasama dalam suasana kebersamaan komunitas yang saling menasehati dalam rangka mengemban amanah Allah ta’ala dalam membangun peradaban bersama untuk generasi terbaik.

Hanya kepada Allah kita mohon petunjuk

Harry Santosa

Harry Santosa

Founder MLC (Milenial Learning Center)
Praktisi dan SME HEbAT (Home Education based Akhlaq and Talents)
Penulis buku Fitrah Based Education (FBE)
https://www.facebook.com/harry.hasan.santosa

Komentar