Praktisi Pendidikan Berlingkung : Kearifan Lokal

Agar anak-anak kita bisa hebat bersama Indonesianya, Menjadi tuan rumah yang baik bagi tetamu global yang berkunjung

Achmad Ferzal

Disiarkan langsung dari Korwil 1 grup Sumatera 2 (Propinsi Sumatera Barat ), dengan bangga dan rasa syukur kami hadirkan rangkaian kulwap materi pokok 3 sesi 2: "Mengenal Kearifan Lokal" bersama Achmad Ferzal (bang Ical).
🔰Mengenal Kearifan Lokal🔰

SME: Achmad Ferzal
(Praktisi Pendidikan Berlingkung)

CV/Biodata SME
🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸
🔹Nama Lengkap: Achmad Ferzal
🔹Penggagas dan Pendiri TRUE Creative aid (www.truebogor.ning.com).
🔹Desain produk ITB, ketertarikan pada pengembangan: Design Thinking for All. Digunakan sebagai sarana pembangkit daya kreativitas berbasis LINGKUNG (kreatifalakita).
🔹Berpengalaman mendampingi masyarakat di pedalaman dan menemukan pola didik sejati anak-anak ala daerahnya masing-masing.
🔹Ayah dari 5 anak muda (si bungsu 16 tahun).
🔹Berdomisili di kota Bogor
---------------------------

Bismillah...
Kearifan lokal, apa definisi sederhananya?
Menggunakan apa yang ada, tidak mengada-adakan dan berharap semua tersedia.

Seperti kisah seorang pengemis yang meminta bantuan pada seorang raja, bukannya langsung diberikan bantuan tapi ditanya: apa yang kamu punya.Dan pengemis yang tidak memiliki apa-apa dipaksa untuk melihat (mensyukuri) benda-benda yang ia punya. Kemudian satu-satunya benda (mangkuk tempat meminta-minta) miliknya di tukar dengan kapak dan tali untuk bekerja mengambil kayu dihutan.

Bangsa ini memiliki banyak hal (kekuatan) yang tersembunyi karena tidak disyukuri (diingat-ingat) sehingga lebih tertarik meminta semua serba ada dan lupa dengan apa yang dipunya. Dan lebih parah senang memaksa dengan mengada-adakan sesuatu yang belum tentu cocok dengannya.

Yang dipunya itu (kekuatan) dapat berupa: tradisi berbuat yang luhung, pengetahuan lokalnya dan pandangan hidupnya. Yang sering tersembunyi atau bahkan nyaris punah. Darimana kekuatan2 (kearifan)itu? Dari interaksinya dengan LINGKUNGnya.
Tiap daerah memiliki LINGKUNG yang berbeda-beda.

LINGKUNG adalah bahasa Indonesianya untuk context (Prof.Yus Rusyana). LINGKUNG terdiri dari: Alam fisik-Alam Hayati-Budaya-Masyarakat (kini) dan kehidupan beragama.
Oleh karenanya kami menggunakan cara paling asyik untuk membangkitkan kekuatan masyarakat dengan menggali dan meletakkan pada tempatnya (helping people with their own power).

Sebenarnya pola pikir seperti ini bisa digunakan dari skala besar (propinsi,kabupaten,kota, desa, kelurahan,RT/RW) hingga skala terkecilnya (keluarga).
__________________
*Disampaikan sebagai Materi Pendalaman HEbAT Community
(Sub Topik Rangkaian Materi Pokok 3)

👤Bang Ical:

Pengalaman mendampingi guru-guru sekolah dasar negeri banyak memberi pembelajaran penting tentang kemampuan sumber daya manusia yang keren dikalahkan oleh rasa takut salah dan minder, dan indikator kebangkitan kekuatan ketika teman-teman pendidik mampu bangkit dan PD dengan kreasi ala mereka (kreatifalakita). Salah satu caranya dengan menggunakan pendekatan: menulis,merencana dan mengevaluasi dengan cara kreatif. Menggunakan modul2 sederhana namun dirancang untuk membangkitkan daya nalar dan kretivitas guru didaerah terpencil. Sehingga sambil mereka menemukan cara-cara kreatif untuk membuat iklan-pengetahuan yang membangkitkan rasa penasaran murid, mereka juga perlahan sedang menyusun buku skenario mengajar ala daerah mereka.✅

🔺Host: Baik, sebuah cerita pengantar yang sangat mengisnpirasi, dari  Bang ical seorang putra daerah Minang -Palembang, Penggagas dan Pendiri TRUE Creative aid (www.truebogor.ning.com). Semoga semakin mnyemangati kita menuju peradaban baru 😊✊.
Baik bang, boleh kita mulai diskusinya ya dengan pertanyaan pertama dari Bekasi

 Bunda Sari Romlah dan Bunda Laras (Bekasi)
* pertanyaan senada

1. Bgmn dengan lingkungan terbatas kita tinggal spt di perumahan yg notabene disitu tdk ada bahan2 yg bisa dijadikan utk berkreativitas...

2. Mengenai kearifan lokal spertinya setiap lingkungan pasti bisa diberdayakan walaupun minim.. pertanyaan saya bgmn kalau sumber2 daya manusia nya yg tdk mendukung diadakan eksplore lingkungan? Misalnya saja, orgtua diperumahan yg lbh senang anak nya bermain -bersih-...

1⃣ bunda Sari dan bunda Laras di Bekasi,  keadaan sekitar kita sebenarnya banyak menyimpan hal2 unik,  sekalipun itu di padang pasir tandus sekalipun. Silaturahmi kepada tetangga, becek yang disebabkan hujan, air got yang mampet, udara panas pada dinding rumah, hingga menghitung langkah kaki ke mesjid, itu semua bisa menjadi pembelajaran yang begitu indah. Saya pernah memimpin sebuah SMA yang tugas inti (project) siswa dalam tahun pertama adalah menggali seluruh potensi 4 RT sekitar sekolah menggunakan LINGKUNG nya. Mereka berkeliling dan diajarkan kemampuan menggali (mendengar dengan kaki-kepala-hati). Hasilnya luar biasa, mereka terlatih untuk mengamati dan menggali hal2 yang kadang diabaikan. Saya rasa ayah bunda juga bisa memiliki kemampuan ini ✅
2⃣ Andita-Malang

Melihat profil bapak selaku design thinking for all..sy tertarik bertanya ttg #bukuortu di buku FBE.
Salah 1 step pembuatan buku ortu adalah design thinker..bisakah dijelaskan keterkaitan jg detail penjelasan ttg design thinking dlm pembuatan #bukuortu pak. Terimakasih😀🙏🏻

2⃣ Inti berpikir desain adalah -sabar- dan penuh kejutan. Berpikir desain harus bisa mengakomodir potensi-potensi -penulisnya-. Bisa menggunakan rangkaian tahap yang dimudahkan (ada keterangan yang jelas untuk mengisinya) hingga merancang  pola pendekatan: EMISOL (Empati-Imajinasi-Solusi) untuk mengeluarkan potensi kreatif. Setiap tahap dan rangkaiannya harus membuat sensasi: "wow saya bisa yah bikin uraian kegiatan seperti ini." sampai "wow kok saya jadi mudah yah nemuin ide.". Mudah dan sederhana dan menyediakan kejutan adalah kunci awalnya ✅ EMISOL (Empati-Imajinasi-Solusi)
3⃣ Dian Retno-Kota Batu dan Bunda Rima-Banyumas

"Tiap daerah memiliki LINGKUNG yang berbeda-beda. LINGKUNG terdiri dari: Alam fisik-Alam Hayati-Budaya-Masyarakat (kini) dan kehidupan beragama"

- Berdasarkan penjelasan materi Bapak di atas, saya ingin bertanya terkait pola asuh/pendidikan anak yang memiliki ayah-ibu berbeda suku dan kebudayaan. Apakah perbedaan tersebut berpengaruh secara signifikan pada perkembangan anak? Apakah ada tips dan saran khusus agar ayah-ibu berbeda budaya dapat selalu kompak dalam mendidik anak?
Terima kasih 😊

- Ketika pasangan yg menikah dengan latar budaya yg berbeda. Kemudian tinggal di tempat yg mempunyai kearifan lokal yg berbeda pula dengan ked: uanya. Maka kearifan lokal seperti apa yang paling cocok untuk diterapkan pada anak anaknya? Mengikuti budaya sekitar, atau kedua orang tuanya?

Apakah mengenal kearifan lokal berarti kita harus bereksplorasi dengan budaya dan masyarakat sekitar?


3⃣ Tiap keluarga memiliki keunikan dalam pola asuh anaknya, temukan tradisi berbuat keluarga anda, pengetahuan lokal dan pandangan hidup keluarga anda. Ada yang bilang ini visi-misi keluarga, DNA keluarga dsbnya. Perbedaan budaya bisa disatukan dengan penyamaan2 Misi dan Visi bersama🙂 . Mengeksplorasi budaya sekitar, sebagai pendatang itu pilihan. bisa digunakan sebagai pengaya kebutuhan pendidikan ananda. Kearifan lokal di daerah kita bisa menambah daya persepsi dan pembelajaran konsep tingkat tinggi untuk ananda tercinta.✅ Ini (gambar disamping) salah satu buatan guru di Tentena (kab.Poso) yg asalnya hanya rangkaian lembar-lembar tulis tangan
4⃣ Bunda Aisy dan Bunda Robiatul (Bekasi)

- Belakang rumah saya persawahan,kadang anak2 saya ajak main kesana,tp mereka gak mau nyemplung ke sawahnya,karena mereka tau sawahnya juga buat pup (maaf) orang kampung,saya sendiri juga begitu,jd hanya dipinggir2nya saja,bagaimana caranya biar bermain yg bs menyatu dg alam?

- Lingkungan masih mendukung untuk bermain, tapi bagaimana kalau kasusnya adalah anak yg tidak mau? Saya pernah ajak ke sawah ambil Ciput (Tutut sawah), saya nyemplung sm suami, tapi anak ga mau. Saya suruh main ujanan juga ga mau, maksudnya biar dia nyoba, tapi anaknya yg ga mau, bagaimanakah solusinya?

4⃣ Intinya kita harus bisa membuat -iklan- tentang pengetahuan atau wanaha pengetahuannya. Banyak cara mulai dari bercerita hingga mencari referensi film2 yang berhubungan maupun tidak. Membangkitkan Mau adalah kesabaran yang menuntut aksi untuk menemukan jalan bagi ayah-bunda. itu yang membuat pendidikan adalah ilmu namun mengajar adalah seni 🙂 Terus mencoba ayah-bunda👍🏻, nanti usaha anda (pengalaman) bisa menjadi khazanah untuk kurikulum keluarga. Tambahan: asyiknya kurikulum keluarga itu gak ada istilah gagal, yang ada rangkaian indah, lucu, hingga haru dalam membangkitkan kemauan, menambah kemampuan dan membimbing kemajuan ✊🏽✅ 
5⃣ Bunda Dewi (Lampung)

Bagaimana kita menerapkan dan memanfaatkan pola pikir seperti kearifan lokal ini untuk memberdayakan masyarakat bagi kami yg tinggal di lingkungan kota besar yg sudah sangat heterogen, dimana sulit sekali menemukan kearifan lokal yg tersisa. Klo pun ada, sudah sangat jarang ditemui dan hanya dijalankan oleh generasi tuanya saja.

5⃣ Justru ketika kita mencobakan kearifan lokal yang hanya jadi cerita, misalnya membuat kue tertentu bersama anak kemudian mendokumentasikannya sambil meminta anak bercerita tentang rasa-fakta-aha ketika berproses, tentunya bisa jadi bahan awal -konservasi- nilai2 luhur di daerah anda. Berpeluang jadi pelopor bunda Dewi. Pelopor gerakan penggalian nilai luhur kedalam aktivitas keluarga/pendidikan anak. Tentu disesuaikan dengan tingkat umur ananda. Justru mumpung masih ada sumber...segera gali dan segera pikirkan kegiatan kreatifnya!
✊🏽 kami siap bantu untuk menstrukturkan atau membuat kegiatan kreatifnya hingga memfasilitasi bunda jadi ahli rekam kemas 🙏🏽✅

6⃣Bunda Deasy (Medan)

Bagaimana kaitannya antara mengenalkan kearifan lokal dengan proses HS atau HE yg jika sedang jalankan? Sejauh apa urgensitasnya dengan fitrah anak sehingga kita hrs masukkan dalam kurikulum HS kita. Lalu bagaimana langkah2 mengenalkan kearifan lokal itu ke dalam proses HE anak2. terimakasih byk sebelumnya pak.

6⃣ Sebenarnya, menggali kearifan lokal adalah salah satu usaha menemukan pola didik sejati anak-anak hebat bangsa ini.
Kebayang bahwa pandangan barat yang mengatakan kalau membuat sesuatu harus dibuat gambar tampaknya (rumah atau bangunan) dikalahkan oleh para pembuat kapal pinisi yang membuat kapal besar tana menggunakan gambar, hanya menggunakan perintah lisan...ukuran badan dan nyanyian2. Urgensinya agar anak-anak kita paham proses bentukan suatu budaya (mulai dari budaya rumah), dan bisa bangga memperkenalkan Indonesianya buakn hanya dengan nasi goreng atau sate 😁. Tidak usah rumit2 dengan belajar antropologi atau etnografi. Pola pikir penggaliannya yang sebenarnya harus ditularkan. Agar anak-anak kita bisa hebat bersama Indonesianya 👍🏻 Menjadi tuan rumah yang baik bagi tetamu global yang berkunjung ✅

7⃣ Ayah Dani (Jabar)
Untuk perkembangan psikologi anak, lbh baik mana anak yg dibiarkan main sepakbola, layang2 atau yg lainnya dg anak2 yg fokus atau menghabiskan waktunya main PS atau permainan dlm tablet?

7⃣ Saya bukan pakar  psikologi, tapi dasarnya adalah pendampingan (didampingi) olleh teman tumbuh teman belajar yang bisa mengarahkan. Kedua kegiatan tersebut bisa menjadi jalan hebat, tergantung konteks dan keadaannya. Namun jika kegiatannya hanya itu2 saja (fokus) ya sebaiknya si pendamping mampu menemukan jalan/cara untuk membuat iklan kegiatan lainnya✅
 8⃣ Bunda Tika Ginanjar (Grup Jabar Raya)

Ketika berkaitan dengan mendukung proses belajar anak, orang tua seringkali ingin memberikan yang terbaik (dalam hal ini alat belajar) bagi anak. Bagaimana pandangan Bang Ical ttg hal ini. Apakah anak dibiasakan belajar menggunakan apa yang sudah ada, ataukah dibenarkan menyediakan alat-alat belajar terbaik bagi mereka?

8⃣ Menggunakan alat tidak terlarang bunda Tika, asalkan jangan terlalu tergantung dan menutup kemungkinan2 media belajar di LINGKUNG kita. Mengunakan alat belajar/teknologi untuk mendukung kegiatan menggunakan LINGKUNG lebih asyik lagi, jika mampu 👍🏻✅
9⃣Bunda Risna (Bekasi)

Anak sy suka bermain dg alam. Banyak sekali projek yg dibuat, dr metikin ranting pohon utk membuat sarang burung, bikin restoran utk semut2 di belakang rmh dr daun2an. Jika dia membutuhkn air, sy hanya batasi penggunaannya kira2 1 ember sj. Sy bilang utk hemat air. Nah itu termasuk kearifan lingkungan atau sy malah menghambat eksplorasi anak ya pak...? terima kasih

9⃣ Kegiatan yang baik itu: ada penambahan ilmu pengetahuan, pengasahan keterampilan dan penumbuhan sikap. Saya senang melihat kegiatan ananda yang didampingi oleh bunda Risna yang mampu menumbuhkan sikap. Karena eksplorasi bukan berarti membebaskan sebebas-bebasnya. Bahkan dari cerita hemat air bunda sepertinya bisa jadi jalan masuk untuk iklan yang dilanjutkan pada kegitan seru berikutnya ✅
1⃣0⃣ Dewi Mulyati (Bandung)

Assalamualaikum wr wb
Dari uraian yg dipaparkan di atas..  Blm tergambar bang Ical...

1. Bisakah diceritakan bgmn pengalaman bang ical saat mendampingi masyarakat lalu menemukan pola didik ala daerahnya.

2. Untuk yg tinggal diperkotaan, dimana masyarakatnya induvidualistis, anak2 lebih banyak berteman dg tv dan gadget,... Dsb

3. Bgmn peran ortu, agar ortu dan anak mengenal kearifan lokal di daerahnya.
Jazakalloh

✋+✋= 🔟
1. Secara singkat, kami berbaur (tinggal bersama mereka) dan menyatu (engage) mendengar dengan hati, kepala dan kaki (Empati). Proses terpenting untuk membangkitkan kemauan (MAU), baru kami beri tantangan namanya #guruberani...untuk menyalurkan keMAUan menjadi Mampu. Selanjutnya kami berikan tools (modul menulis) #kreatifalakita yang disesuaikan dengan kondisi.
2. perkotaan punya potensi dan keunikannya sendiri, indivisualitas itu sebenarnya akibat. terus putar akal mencari sebab dan berulang-ulang -membuat iklan- apalagi berkomunitas adalah usaha asyiknya. jangan panik dan reaktif, mulai dengan EMISOL mudah2an ada jalan.
3. Peran ortu bisa sebagai -PERANCANG PENGALAMAN: menggali lebih dahulu dan segera kumpulkan bahan menjadi aneka kegiatan yang sesuai dengan usia dan perkembangan anak.
Karena  menurut Vigotsky: pembelajaran yang berbasis pada budaya dan aneka interaksi sosial adalah proses pembelajaran yang memicu fungsi mental tingkat tinggi (higher order thinking skill) yang berdampak pada persepsi memori dan cara berpikir anak. Salam Mau, Mampu Majuuu ✅

🔺Host: Subhanalloh wal Hamdulillaah, pertanyaan terakhir beserta jawabannya benar benar inti dari semuanya 😄✊✊
 Alhamdulillaahirobil-alaamin. Selesai juga kulwap hari ini.
Barokallah bang Ical, terima kasih banyak sudah berbagi ilmu tentang Kearifan Lokal  kepada  keluarga besar HEbAT Community.

Beberapa catatan di saya, yg terutama adalah : membangkitkan MAU dan terus mencoba ndan nggak ada istilah gagal. Mau, Mampu, Majuu ✊✊✊

Semoga Allah yg maha pemurah senantiasa mencurahkan kasih, sayang dan rahmatNya kepada bang Ical sekeluarga. Sukses dan sehat selalu ya Bang Ical🙏😊

👤Bang Ical: ✊🏽 terimakasih kembali para sahabat perancang pengalaman ✊🏽
aamiin dan doa yang sama untuk kita semua🙏🏽

🔺Host: Mari kita tutup kulwap kali ini dengan bacaan hamdalah bersama diikuti doa penutup Majelis.
Dari kami yang bertugas, mohon maaf atas segala khilaf.

Waktu kami kembalikan ke Admin🙏😊
Wassalaamualaykum wr.wb
HEbaT

HEbaT

Grup HEbAT (Home Education Based on Akhlaq and Talents) adalah Grup tempat saling belajar dan berbagi mengenai pendidikan yang memang sudah semestinya dijalankan keluarga dalam rumah. Pendidikan yang menumbuhkan fitrah, bukan mematikannya.
Bapak Harry Santosa (Praktisi HE sejak 1994 sekaligus founder MLC)
Ibu Septi Peni Wulandani (Praktisi HE sejak 1996, sekaligus founder IIP)
Bapak Adriano Rusfi, S.Psi (Praktisi HE, konsultan Pendidikan & PPSDM)

Komentar