Memahami Fitrah Anak

Mendidik fitrah anak sesungguhnya adalah kesempatan mendidik fitrah kita sendiri. Berapa banyak orangtua yang bertaubat dan kembali ke jalan yang benar demi anak anaknya

Harry Santosa

Sesi Tanya Jawab Grub Nasional - HEbAT
bersama bpk Harry Santosa, Msi
mengenai " Memahami Fitrah Anak (4 fitrah+) "

1⃣ Alin-Johan, Bekasi

Apakah HE itu harus benar-benar unschooling untuk mendapatkan pencapaian yang sesuai dengan HE? 
Jika misal kita sebagai orang tua tidak melakukan unschooling, dengan kata lain menyekolahkannya di sebuah lembaga dengan pandangan bahwa anak sekolah bukan saja hanya untuk -memindahkan apa yg disekolah ke rumah-  (walaupun memang demikin adanya), yang kami lakukan  semata2 untuk ikhtiar saja supaya -mengebalkan- imun anak lewat sekolah, namun tetap mengusung apa yang dilakukan HE. bagaimana tanggapan pak ustadz? Terimakasih sebelumnya.

Jawaban :
Sebelum menjawab pertanyaan izinkan saya memaparkan sedikit tentang Apa itu Fitrah. 
AyahBunda HEbAT yang dimuliakan Allah dengan fitrah peran mendidik anak anak, 
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah.
 وفَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ
(Itulah) agama yang lurus ; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.”  (QS Ar Ruum (30):30).

“Tidak ada seorang bayipun dilahirkan kecuali dalam keadaan fitrah (yang suci). Maka orang tuanyalah yang menjadikan anak itu Yahudi, Nasrani atau Majusi”
 (alHadits) 

Dari dua nash di atas, jelaslah bahwa peran mendidik orangtua adalah merawat dan menumbuhkan fitrah. Lalu apa itu fitrah?
Dalam bahasa Arab, Fitrah (fitrah) dengan segala bentuk derivasinya mempunyai arti: belahan (syiqah), muncul (thulu), kejadian (al ibtida), dan penciptaan (khalqun).[1] Sifat pembawaan yang sejak lahir. [2] 
Dalam pengertian yang sederhana istilah definisi fitrah sering dimaknai suci dan potensi. Secara etimologis, asal kata fitrah / fitroh / pitrah berasal dari bahasa Arab, yaitu fitrah (فطرة)  jamaknya fitharفطر),  ) yang suka diartikan perangai, tabiat, kejadian, asli, agama, ciptaan.[3] 
Menurut Muhammad Quraish Shihab, istilah fitrah diambil dari akar kata al-fithr yang berarti belahan. Dari makna ini lahir makna-makna lain, antara lain pencipta atau kejadian.[4]

Dalam gramatika bahasa Arab, sumber kata fitrah wazannya fi lah, yang artinya al-ibtida, yaitu menciptakan sesuatu tanpa contoh. Fi lah dan Fitrah adalah bentuk masdar (infinitif) yang menunjukkan arti keadaan. Demikian pula menurut Ibn al-Qayyim dan Ibnu Katsir, karena fiţir artinya menciptakan, maka fitrah berarti keadaan yang dihasilkan dari penciptaan itu. Menurut hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas RA, fitrah adalah awal mula penciptaan manusia. Sebab lafadz fitrah tidak pernah dikemukakan oleh al-Quran dalam konteksnya selain dengan manusia.

Kata fitrah dengan berbagai bentuk derivasinya disebut di dalam alQuran sebanyak 28 kali, 
14 kali disebut dalam kontek uraian tentang bumi dan langit, 
14 kali disebut dalam konteks pembicaraan tentang manusia, baik yang berhubungan dengan fitrah penciptaan maupun fitrah keagaman yang dimilikinya.
Ada juga yang mengatakan bahwa  kata fitrah dan derivasinya disebutkan sebanyak 20 kali, terdapat dalam 17 surat dan dalam 19 ayat, muncul dengan berbagai bentuknya. Ada dalam bentuk madhi, fi il mudhari, isim fail, isim maf ul dan isim mashdar. Dalam bentuk fi il madi sebanyak 9 kali, dimana fitrah berarti menciptakan, menjadikan. Kemudian dalam bentuk fi il mudari sebanyak 2 kali, yang berarti pecah, terbelah. Dalam bentuk isim fa il sebanyak 6 kali yang berarti menciptakan, yang menjadikan. Dalam bentuk isim maf ul sebanyak 1 kali yang berarti pecah, terbelah. Dan dalam bentuk isim masdar sebanyak 2 kali yang berarti tidak seimbang

Lafal fitrah dengan berbagai bentuk derivasinya, banyak disebut dalam al-Quran, konteks ini berarti al-khalq dan al-ibtida. 
Al-khalq itu sendiri identik dengan al-ibtida (yang memiliki arti menciptakan sesuatu tanpa contoh). Hanya saja yang menyebutkannya dalam bentuk ini (fitrah), yakni yang mengikuti pola fi lah, hanya satu ayat terdapat dalam QS. Ar-Ruum/ 30 : 30.
 ✅
2⃣ Ummu Harrits-Jogja

Assalamualaikum Ustadz, ,
Bgmn kita menerapkan kedisiplinan (misal jdwl tdr siang) untuk anak usia 0-7 th, tanpa mencederai fitrah nya? 

2⃣ Ummu Harrits yang baik di Jogja,
waalaykumusalaamwrwb, 😊🙏. 
Disiplin dalam makna kedisplinan mirip orang dewasa, diterapkan di atas 7 tahun ketika anak sudah memiliki tanggungjawab moral dan sosial, sama halnya sholatpun baru diperintahkan di usia 7 tahun bukan sejak dini. Itupun dengan pendekatan kesadaran, cinta dan konsekuensi bukan pembiasaan tanpa kesadaran, reward dan punishment.
Di bawah usia 7 tahun, anak anak fitrahnya sedang indah2nya, maka kreatiflah membuat aturan yang menyenangkan. Upayakan semua aturan seamless, tidak terasa. Perhatikan pola tidurnya, biasanya anak seumur itu sekitar 10 - 12 jam sehari semalam, buatlah jadwal tidur sesuai jadwal ngantuknya sesuai kebutuhan jam tidurnya.

Jika anak diharapkan tidur siang jam 11-12 tentu, bangunnya harus sebelum Subuh, jam 4 misalnya sekaligus melatih ritme waktu tubuhnya untuk sholat shubuh. Biasanya jam 11-12 sudah mengantuk lagi. Kalau kita biarkan tidur sampai siang sampai jam 7 misalnya, maka jam 11-12 tentu belum mengantuk. Nanti yang ada sama2 stress, memaksa disiplin tidur siang sementara anaknya belum mengantuk. ✅
3⃣ Bunda Irma-Purwokerto

Mhn dijelaskan lg mksud dr HE melawan arus baik konsep maupun praktek pendidikan dgn persekolahan?
Saya newbie dan msh blm phm btul dg HE 

3⃣bunda Irma yang baik di Purwokerto, 
HE adalah prinsip dan kewajiban bahkan sejak zaman Nabi Adam AS, tetapi bagi kebanyakan orangtua HE adalah sekedar opsi saja. 
HE fokus kepada insideout semua potensi fitrah (fitrah iman, fitrah belajar, fitrah bakat, fitrah seksualitas dll), tetapi bagi kebanyakan orangtua HE dipersepsikan memindahkan sekolah ke rumah. Karenanya HE sesungguhnya tidak banyak mengajar, tetapi banyak menemani dan memfasilitasi.

HE mendidik semua potensi fitrah anak anak kita secara terpadu agar mencapai peran peradaban ketika aqilbaligh tiba, tetapi bagi kebanyakan orangtua mendidik adalah menyekolahkan anak sampai sarjana, padahal wellschooled belum tentu welleducated. 
4⃣ Bunda Yeni-Banyumas

Pd anak di bawah 5 th, sbaiknya lbh byk BBA nya ya? Anak sy kl di rumah lbh srg main sendiri dan blm bs lepas dr tv. Di rumah msh ada tv soalnya 😩 

4⃣bunda Yeni yang baik di Banyumas, 
Setidaknya ada 7 hal penting yang dialami Rasulullah SAW dalam pendidikannya ketika Beliau masih usia 3-6.

1. Kelekatan ayah dan ibu,

2. Bahasa Ibu (mother tongue),

3. Sensomotorik dengan banyak bereskplorasi di alam dan kehidupan spt menyentuh, meraba, merasakan, mendengar, melihat dstnya,

4. Psikomotorik atau kekuatan jasmani, spt mendaki bukit, outbound dll

5. Executive Functioning, melatih kepemimpinan dengan menggembala kambing atau memelihara hewan,

6. Kisah kisah keteladanan dan kepahlawanan, 7. Pembersihan hati. Untuk anak kita ini masa emas bagi Fitrah keimanan dengan keteladanan dan atmosfir keshalihan. Sebaiknya jangan sia2kan masa ini, fokuslah dengan hal2 di atas, karena akan berdampak pada tahapan berikutnya
5⃣ bunda maya. BDG 2

1. bagaimana mengefektifkan HE pada keluarga yang tinggal bersama mertua dan keluarga ipar? (selain dikomunikasikan)

2. bagaimana membangun dan mengoptimalkan peran ortu agar komunikasi dapat terjalin dengan terbuka? sehingga, anak juga turut terbuka dan tidak merasa segan terhadap ortunya 

5⃣bunda Maya yang baik di Bandung,
1. Selain dikomunikasikan tentu dilibatkan karena HE secara ideal melibatkan semua anggota rumah. Penglibatan ini tentu apabila sudah memiliki misi yang sama tentang kewajiban HE pada generasi mendatang atau keturunan. Biasanya halangannya pada mindet, bahwa mendidik adalah menyekolahkan, jadi banyak yang "angkat tangan" karena dalam benak mereka HE adalah mengajarkan mata pelajaran, padahal HE ada banyak aktifitas seru yang membangkitkan kesadaran fitrah anak anak dari hal yang paling sederhana, misalnya bermain, jalan jalan, berkebun, bikin craft, membersihkan bak mandi bareng, memlihara ayam, mengajak ke masjid, menceritakan kisah keteladanan dll ✅
6⃣Bunda Mery-Bekasi

Pak harry,bagaimana cara meng HE kan adik saya,yg dmn kami tidak serumah dan tempat tinggal kami beda kota,sehingga hanya bertemu 3 bulan sekali it pun tdk lama.bagaimana caranya agar adik saya masih bisa belajar sesuai fitrahnya,sedangkan ortu saya tdk faham dan ayah saya telah meninggal
Oh ya skrg adik saya umur 7 tahun,sudah masuk sd kelas 1 d sd negeri,mamah saya sering blg jg bahwa adik saya tidk bersemangat saat sekolah
Apa yg harus saya lakukan?
Terimakasih 

6⃣bunda Mery yang baik di Bekasi, 
Memang mendidik fitrah sebaiknya dalam pengasuhan dimana sosok ayah ibu lengkap serta berkepentingan untuk merancangkan personal pendidikannya berbasis fitrahnya. Jika tidak memungkinkan tinggal bersama bunda, maka upayakan ada sosok ayah misalnya orang shalih atau keluarga shalih yang bisa sesekali di homestaykan.

Yang ketiga sering2lah telepon dan ajak berdiskusi seru bukan interogatif spt menanyakan PR, nilai ulangan dll tetapi lebih ke apa yang dia sukai, bagaimana perasaannya, bagaimana pendapatnya ttg Allah, ttg Islam, ttg kehidupan dll. Yang ketiga, coba bunda jika bertemu, ajak dialog untuk memetakan perasaannya. Saran saya, buat emphaty map, sederhana yang memetakan apa yang dirasakannya, apa yang difikirkannya, apa yang ingin diucapkannya, apa yang telah didengarnya dll catat semua yang berkesan lalu pertimbangkan bagaimana pendidikan yang terbaik baginya. ✅
7⃣ Dinda Permatasari (HEbAT Depok)

"Fitrah yg baik pada anak2 kita akan bertemu dgn fitrah yg baik yg ada dlm diri ortunya. Apa yg keluar dari fitrah yg baik akan diterima oleh fitrah yg baik."
Lalu apa yg bisa kami lakukan utk melejitkan fitrah2 yg ada pd diri kami sebagai ortu,, karena melejitkan potensi anak2 itu dimulaii dari melejitkan potensi diri kita sendiri.
Sedangkan kita ortunya dulu mgk tdk maksimal perkembangan fitrahnya. Bahkan mungkin ada yg masih terpendam😌 

7⃣bunda Dinda yang baik di Depok,
Mendidik fitrah anak sesungguhnya adalah kesempatan mendidik fitrah kita sendiri. Berapa banyak orangtua yang bertaubat dan kembali ke jalan yang benar demi anak anaknya. Berapa banyak orangtua yang menjadi lebih akhlaknya setelah memiliki anak. Bahkan banyak orangtua baru tahu bakatnya karena berusaha memetakan bakat anak anaknya.

Bahasa kerennya "raise your child, raise your self".
Karena kita merasakan betul amanah mendidik fitrah ini maka kita perlu berubah, kita perlu untuk bangun di sepertiga malam untuk bermunajat agar diberikan qoulan sadida, qoulan tsaqila, yaitu ucapan dan tutur yang indah dan berkesan, fikiran gagasan serta idea yang bernas, sikap dan perilaku yang layak diteladani dstnya. Apapun kita lakukan demi kebaikan anak anak kita di masa depan bukan? Maka jadikanlah amanah mendidik anak ini adalah kesempatan belajar yang banyak, kesempatan kembali ke fitrah kita, kesempatan mendekat kepada Allah SWT dstnya. "Allah tidak akan memanggil mereka yang mampu tetapi memampukan mereka yang terpanggil "✅
8⃣ Bunda Ika - Bogor
Apakah ada panduan untuk menentukan visi dan misi keluarga? apakah ia harus dirumuskan ataukah mengalir begitu saja? dan bagaimana caranya supaya kita bisa konsisten dalam mencapai visi dan misi tersebut? trmksh 

8⃣bunda Ika yang baik di Bogor,
Misi adalah tugas. Visi adalah cita cita yang harus selaras dengan tugas.
Apa tugas spesifik pernikahan kita? Tentu jawabannya bukan beribadah, menjadi khalifah, dstnya karena beribadah, menjadi khalifah adalah tujuan penciptaan (the purpose of life).

Tugas kehidupan secara umum adalah memberi manfaat dan menebar rahmat, menjadi solution maker (bashiro) dan problem solver (nadziro).
Maka tugas spesifik pernikahan adalah bagaimana keluarga kita, dengan potensi uniknya, bisa memberi manfaat dan menebar rahmat, memberi kabar gembira dan memberi peringatan. 

Maka menemukan misi keluarga kita adalah menemukan potensi kolektif atau aktifitas kolektif yang disukai bersama. Ada keluarga yang punya misi sosial pendidikan, sosial dhuafa, pedagang retail, melayani warga, melayani kesehatan, pendidik anak anak,dll. 
Ajak suami untuk merefleksikan bersama apa misi spesifik keluarga. Ada yang menyarankan untuk mengamati apa saja yang apabila dikerjakan bersama itu enjoy semuanya, easy melakukannya dan keren hasilnya juga ada manfaat dan income. 
Nah itulah misi spesifik keluarga kita. Allah memudahkan jika itu memang jalan kita, maka bersungguh sungguhlah.
قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَى شَاكِلَتِهِ فَرَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَنْ هُوَ أَهْدَى سَبِيلا
"Katakanlah: tiap tiap orang itu beramal menurut Syaqilah (bakat pembawaannya) masing masing. Maka Tuhanmu lebih mengetahui orang yang lebih benar dan lebih tepat jalan yang ditempuhnya" (QS Al Ishro 17:84)
َالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ 
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik”
(QS. Al-Ankabuut 29:69)
 ✅ 

9⃣ Bunda Winny-Bandung

Yang saya pahami Home Education adalah pengembalian pendidikan anak kpd ortu di rumah dgn menumbuhkembangkan fitrahnya. Jadi di sini bukan berarti tidak sekolah kan? HS, sekolah formal, atau unschooling itu kembalikan kpd kebutuhan anak & kapasitas ortu. Namun, HE adalah kewajiban setiap ortu. Betul tidak pemahaman saya? 😊

9⃣bunda Winny yang baik dari Bandung,
Kesimpulan yang baik dan benar. HE adalah kewajiban para orangtua. Namun keputusan utk HS, Sekolah Formal atau Unschooling bukan karena kapasitas orangtua tetapi karena pertimbangan apakah fitrah anak anak kita terjamin tumbuh kembangnya dalam pilihan pilihan itu. Saran saya, rancanglah personal education berbasis fitrah untuk tiap anak anak kita, lalu apapun pilihannya pastikan semua fitrah anak kita tumbuh paripurna. Sebagai catatan, tidak semua fitrah bisa ditumbuhkan di luar rumah, misalnya fitrah seksualitas, ini murni peran ayah bunda dstnya. Tetapkan indikator untuk tiap fitrah pada tiap tahap pertumbuhan agar tetap bisa dipantau jika ada fitrah yang mulai melenceng, misalnya fitrah belajar, amati jika anak kita belajar hanya karena mau ulangan atau karena takut dll maka fitrah belajarnya bisa jadi mulai menyimpang. Begitupula fitrah keimanannya, jika sholat masih disuruh, menghafal alQuran karena takut sama gurunya dsbnya. Ini juga untuk fitrah2 lainnya. ✅
🔟 Mas Yusuf Fajar, Jogja

1) Bagaimana pak Harry bisa memetakan Fitrah itu menjadi 4? Kalau Fitrah seksualitas, sosialitas dll itu posisinya gmn dalam 4 fitrah yang sama itu?

2. Bagaimana interpretasi pak Harry ttg ungkapan Imam Ali  bin Abi Thalib dalam memperlakukan anak (berdasarkan kelompok umur) jika dikaitkan dengan Fitrah perkembangan:
7 tahun pertama: perlakukan anak sebagai raja
7 tahun ke 2: sebagai tawanan
7 tahun ke 3: sebagai partner

🔟mas Yusuf yang baik,
1. Ke empat fitrah itu yang utama dalam konteks pendidikan umum. Namun secara lengkap ada 8 fitrah yang telah kami riset dari berbagai khazanah dan literatur Islam.  (lihat gambar di bawah)

2. Ketika menyusun fitrah perkembangan kami mengacu kepada tahun tahun usia yang disebut dalam Kitabullah, misalnya 0, 2, 7, 10 dan AqilBaligh. Maka kami membagi penjenjangan besar menjadi sebelum aqilbaligh (0-2,3-6,7-10,11-14/15) dan setelah AqilBaligh (>15 tahun). Angka 14-15 dipilih karena rata rata usia pemuda yang sudah punya peran peradaban dalam rentang sejarah Islam adalah kisaran 13-17 tahun. Jadi tidak mengikuti kelompok umur menurut sayidina Ali RA.
Dalam tahapan usia, kami lebih menyoroti peran orangtua, misalnya 0-2 menyusui, 3-6 memfasilitasi, 7-10 mengarahkan (guide), 11 - 14 mendampingi (coach), > 15 menjadi partner. Mengapa Partner, karena anak yang sudah aqilbaligh maka setara dengan kedua orangtuanya dalam kewajiban memikul beban syariah, jadi posisinya sudah sebagai partner baik partner bisnis, partner dakwah, partner sosial dsbnya.Tidak lagi dipanggil anak tetapi pemuda ✅

Penutup :
bpk Harry Santosa :
jazakumullah atas kerja hebat para kordinator HEbAT dan pertanyaan2 hebat para ayahbunda HEbAT malam ini. Merasa bahagia dan istimewa bisa berbagi dan belajar bersama ayahbunda semua. Semoga Allah memudahkan semua perjuangan kita mendidik anak anak kita sesuai fitrahnya dan tentu dipandu Kitabullah, Mohon maaf jika ada kata yang tidak berkenan, tetap semangat, optimis menjadi arsitek peradaban terbaik untuk generasi terbaik di masa depan yang Allah ridhai. InshaAllah. Allahumma aamiin 🙏😊 waswrwb
Harry Santosa

Harry Santosa

Founder MLC (Milenial Learning Center)
Praktisi dan SME HEbAT (Home Education based Akhlaq and Talents)
Penulis buku Fitrah Based Education (FBE)
https://www.facebook.com/harry.hasan.santosa

Komentar