Hati-Hati, Salah Asuh Sebabkan LGBT!

Pola asuh anak telah terjadi saat anak masih dalam kandungan. Seorang bunda/ayah yang telah mematok target jenis kelamin anak, dan ternyata berbeda dengan ketetapan Allah, dapat membuat anak mengalami disorientasi seksual di alam bawah sadarnya.

Adriano Rusfi

Resume Kulwap Koordinator Instititut Ibu Profesional

📆 Jumat,19 Feb 2016
👳🏻 Narsum: Adriano Rusfi (Ust. Aad)
🎤 Host: Septi Peni Wulandani

🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸

📚 POLA ASUH RENTAN LGBT📚
oleh : Ustadz Adriano Rusfi

Pola asuh anak telah terjadi saat anak masih dalam kandungan. Seorang bunda/ayah yang telah "mematok target" jenis kelamin anak, dan ternyata berbeda dengan ketetapan Allah, dapat membuat anak mengalami disorientasi seksual di alam bawah sadarnya.
Saat anak tersebut lahir, orangtua yang tertalu berharap dengan jenis kelamin tertentu pasti akan kecewa, dan inipun akan menimbulkan "kerenggangan" hubungan bathin antara ayahbunda dengan anaknya. Inipun memiliki dampak psikologis tertentu.
Selanjutnya, ekspektasi akan melahirkan preferensi, dan preferensi akan menimbulkan pola dan gaya asuh. Dimulai dari memberikan nama pada anak. Apakah nama anak-anak kita telah clear laki-laki atau perempuan ? Dan sudahkah kita memanggilnya dengan panggilan-panggilan yang sesuai jenis kelaminnya

Jangan sampai karena kita begitu berharap punya anak laki-laki, kita telah mengkoleksi baju dan pernak-pernik anak-laki laki jauh sebelum kelahirannya. Dan ketika ternyata yang lahir adalah anak perempuan, lalu kita pakaikan baju laki-laki itu padanya, dengan alasan "dibuang sayang". mainannya pun tak menunjukkan peran seksualnya.
Lalu, sudahkah anak merasakan diferensiasi gender pada kehidupan dan perilaku orangtuanya sebagai sebuah teladan ? Ketika ia tidak melihat adanya perbedaan yang signifikan antara "Sang Ayah" dengan "Sang Ibu", baik dalam sikap, peran dan pembagian tugas kehidupan, adalah wajar jika anak mengalami "sexual and gender confuses" dalam identifikasi dirinya

Yang lebih repot lagi adalah jika AYAH absen dalam mendidik anak. Sehari-hari ia hanya menyaksikan ibunya sebagai role model tunggal. Bagaimana ia akan memahami tentang "lelaki" dan "perempuan", baik persamaan maupun perbedaannya ? Bagaimana ia akan memahami tentang femininitas dan maskulinitas ? Ibu Elly Risman bilang : "Indonesia is the fatherless country"

Pendidikan yang terburu-buru melakukan segregasi (pemisahan) seksual pada anak juga nggak bagus terhadap pemahaman perbedaan seksual. Makanya Rasulullah SAW memerintahkan segregasi seksual pada anak saat ia berusia 10 tahun.

Banyak anak-anak yang mengalami misidentitas dan disorientasi seksual karena tugasinya sejak kecil hanya satu : belajar. Dia tak pernah. dilibatkan dalam kehidupan, agar fokus mengejar kecakapan akademik dan nilai raport. Yang laki-laki nggak pernah mengangkat barang belanjaan orangtua. Yang perempuan nggak pernah membantu memasak di dapur. Pokoknya : BELAJAR !!!
Tak heran jika orang-orang yang mengalami misidentitas dan orientasi seksual itu pintar-pintar secara akademik, tapi banci.

🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸

🔛 Tanya-Jawab:

1⃣Nurul Endah IIPSby2

Bagaimana cara orang tua yang paling bijaksana mengarahkan anak supaya menyikapi orang dengan LGBT ini, (*karena teman saya ada yg lgbt , anak saya memang masih kecil saat ini.. saya perlu persiapan dari sekarang)

👳🏻Ust. Aad:
Ibu-ibu sekalian tentang lgbt kita harus membedakan antara pelaku perilaku dan gerakan 
sebagai pelaku kita tetap harus bersifat kasih sayang mendakwahi dan mengajak mereka kembali kepada Fitrah jalan Allah 

sedangkan terhadap perilaku kita harus dengan tegas bersikap bahwa itu keliru 
Sedangkan terhadap sebuah gerakan Kita harus melakukan perlawanan dengan keras, karena ini adalah sesuatu yang sangat membahayakan

Jadi tidak ada masalah jika anak-anak kita bergaul dengan mereka-mereka yang punya kecenderungan lgbt yang penting anak-anak kita punya imunitas mana yang benar mana yang salah akan lebih baik lagi jika anak-anak kita mampu mengarahkan temannya ke jalan yang benar melalui dakwah

2⃣ Sri Wulandari IIP Sby 2:
Yang ingin saya tanyakan
1. Bagaimana cara saya mengetahui seorang anak adalah banci/sedang berproses menjadi banci?
2. Jika memang terdeteksi, apa yang harus saya lakukan sebagai seorang ibu?
3. Planing saya, tahun ajaran ini akan memasukkan putra saya ke ponpes. Apakah ini tindakan yang tepat? Putra saya semangat untuk masuk ponpes. Saya pun juga. Tapi perpisahan berjangka dan prospek tidak bisa menjaganya membuat ada setitik ragu.

👳🏻Ust Aad:
Bunda Sri Wulandari,  untuk deteksi dini Apakah anak-anak kita punya kecenderungan terhadap perilaku lgbt atau tidak pertama Mari kita perhatikan minatnya, Apakah dia berminat terhadap aktivitas yang sesuai dengan jenis kelaminnya atau justru dia berminat dengan aktivitas lawan jenisnya. 

kalau dia sudah cukup besar misalnya sudah di atas 10 atau 11 tahun di mana hormon-hormon sudah mulai menunjukkan gejala-gejala kematangan, kita bisa melihat misalnya dari tatapan matanya. Jika dia laki-laki. namun tatapan matanya Sayu kita sudah mulai harus mencurigai bahwa dia punya kecenderungan seksual yang keliru. 
begitu juga misalnya dia laki-laki tapi Pipinya sudah mulai merona merah, bulu matanya cenderung lentik dan sebagainya, kita sudah mulai mewaspadai hal-hal yang semacam itu.

yang terpenting adalah yang kita mesti perhatikan Bagaimana minat dia terhadap kaum sejenis dan kaum lawan jenisnya saat dia telah berusia 10 tahun.
Jika kita sudah mulai mendeteksi adanya kecenderungan kecenderungan perilaku seksual menyimpang pada anak-anak kita, Saya berharap deteksi itu dapat kita lakukan sedini mungkin. karena semakin terlambat kita mendeteksinya semakin sulit kita meluruskannya 

nah jika kita telah mendapati gejala-gejala penyimpangan seperti itu yang pertama harus kita lakukan tentunya adalah mencoba mencek apa yang keliru dalam pola asuh kita terhadapnya. Apakah misalnya aktivitasnya sehari-hari tidak mendukungnya untuk berperilaku sesuai dengan jenis kelaminnya . Apakah teman-teman dia bergaul itu tidak mendukung dia berperilaku sesuai dengan jenis kelaminnya. Apakah peran peran dalam rumah tangga antara Ayah dan Bunda tidak menunjukkan perilaku yang mampu memberikan contoh mana seharusnya seorang laki-laki dan mana seharusnya seorang perempuan.

kalau kita sudah menemukan indikasinya maka tolong koreksi segera hal tersebut. jika misalnya aktivitas-aktivitasnya tidak sesuai dengan jenis kelaminnya maka kita koreksi aktivitasnya . kalau penyebabnya adalah pergaulan,  maka kita koreksi pergaulannya. Begitu juga kalau persoalannya ada di Peran ayah bunda di rumah tangga maka Tolong segera dikoreksi 

yang patut juga disampaikan pada anak-anak kita bahwa Islam mengajarkan laki laki dan perempuan berbeda. laki-laki harus seperti ini, perempuan harus seperti ini, dan bagaimana laknat dan murka Allah mereka mereka yang tidak sesuai dengan fitrahnya.
Memasukkan anak ke pesantren, Tolong diyakinkan dulu Apakah identitas dan orientasi diri anak sudah jelas. Apakah sudah dia akil baligh. jika belum, cukup berbahaya memasukkan anak ke dalam sebuah pondok dimana di pondok tersebut interaksinya hanya dalam satu jenis kelamin. dia tidur bersama-sama, berinteraksi bersama-sama, hanya dalam 1 jenis kelamin sehingga sangat rentan terhadap kemungkinan terjadinya perilaku seksual yang menyimpang.

 harus kita akui secara diam-diam Pesantren adalah sebuah tempat dimana perilaku homoseksual terjadi, yang menurut beberapa pihak itu sampai pada 17 % santri melakukan aktivitas homoseksual

3⃣ Assalaamualaikum, Ustadz. Saya Nov Anggraini mau tanya:

1.Cara menghadapi seorg lesbi / sejenisnya agar tdk mempengaruhi org lain.

2.Berapa lama wkt yg dibutuhkan utk menyembuhkan para LGBT?

Jazakallahu khoiron. Wassalaamualaikum

👳🏻Ust. Aad:
Bunda Anggraini, menghadapi orang-orang yang sudah memiliki kecenderungan gay atau lesbi sikap pertama yang harus kita berikan adalah ketegasan. ketegasan untuk menunjukkan bahwa kita heteroseksual, dan kita tidak berkompromi dengan itu. ceritakan kepadanya bahwa kita perempuan, dan menyenangi laki-laki.
Jangan beri kesempatan atau peluang peluang di mana dia menunjukkan ketertarikannya kepada kita.

 Saya telah mendapati satu kasus seorang Ukhti tertarbiyah dengan hijab yang rapi didekati berkali-kali oleh seorang lesbi tomboy, dan sekarang mereka telah berpacaran
jadi Sekali lagi saya ingatkan bahwa Tunjukkan posisi kita tanpa ragu-ragu Tunjukkan sikap kita dengan tegas kalau perlu tegur dan marahi dia 

Bahkan bukan sekedar bersifat pasif dan defensif,  kita Justru harus memberikan perilaku proaktif terhadap orang-orang semacam ini, mendakwahinya menyatakan bawa perbuatannya keliru,  dan agama tidak menyukai perbuatan yang semacam itu. Tapi tetap tentunya dengan lemah lembut kasih sayang, tidak mengkriminalisasi, tidak melakukan pemojokan yang membuat mereka semakin defensif terkucil dan mempertahankan kebiasaan buruknya

Waktu yang dibutuhkan untuk menyembuhkan para pengidap lgbt itu sangat beragam 
jika penyebabnya adalah pergaulan yang keliru, itu dapat diperbaiki tidak terlalu sulit, mungkin 1 sampai 3 bulan pun sudah bisa 
masalahnya menjadi lebih rumit jika penyebabnya adalah pola asuh yang keliru Atau dia pernah mengalami Trauma di masa lalu 

jika kedua penyebab itu yang terjadi, maka kita membutuhkan kesabaran yang lebih lama. bisa dalam rentang waktu mungkin cuma 3 bulan bahkan bisa sampai 1 tahun.  terima kasih 

4⃣ Meli, iip Jakarta:
Apakah Bisa diperjelas yang dimaksud dengan segregasi yg terburu2 ?
Perintah rosul utk segregasi anak usia 10 th itu berdasarkan apa? Hadist atau apa?

Bagaimana dgn pemisahan tempat tdr anak? Dari usia brapa?

Terima kasih.

👳🏻Ust Aad:
Bunda Meli, segregasi seksual yang terburu-buru itu maksudnya adalah bahwa anak laki-laki dan anak perempuan telah dipisahkan aktivitasnya terlalu dini.
Misalnya TK pun sudah begitu dipisahkan mana laki-laki mana perempuan. padahal hadits Rasulullah jelas mengatakan bahwa "ajarilah anakmu shalat pada saat dia berusia 7 tahun, dan pukullah pada saat (tidak shalat) berusia 10 tahun, dan pisahkanlah tidur mereka (antara anak laki-laki dengan anak perempuan)".

Jadi hadis tersebut jelas menggambarkan bahwa segregasi seksual atau pemisahan seksual secara tegas itu terjadi pada usia 10 tahun 
kenapa kita tidak perlu terburu-buru melakukan segregasi seksual ? agar anak-anak kita itu mampu membedakan mana laki-laki mana perempuan. laki-laki itu secara fisik seperti apa, perempuan seperti apa. perilakunya seperti apa, perbedaannya seperti apa 
Biarkan saja secara naluriah laki-laki menyenangi yang perempuan dan perempuan menyenangi yang laki-laki.itu naluriah.

betapa banyaknya kasus di sekolah sekolah Islam saat ini, dimana anak laki-laki menyukai anak perempuan, lalu diomelin.  anak perempuan menyukai anak laki-laki, lalu diomelin. akibatnya mereka menganggap bahwa menyenangi lawan jenis itu adalah sesuatu yang keliru. ini adalah benih benih dari terjadinya lgbt

5⃣ust Andriano Rusfi, perkenalkan saya Yani :
Banyak orang pintar tp banci akibat kesalahan pola asuh. Dlm Community Based Education (CBE), pola asuh akil baligh ada peran komunitas yg sangat berarti. Sedangkan di negara kita, beberapa pihak terkait belum bisa bersinergi. Beban akademis yg berat, meskipun di lingkungan Pondok Pesantren, mungkin bisa memunculkan jg masalah LGBT ini. Langkah apa yg ditempuh agar beberapa pihak bisa bersinergi untuk melindungi generasi dari bahaya LGBT ini terutama untuk generasi akil baligh?

👳🏻Ust Aad:
Bunda Yani, Seperti yang saya sampaikan dalam pengantar, salah satu penyebab munculnya perilaku lgbt adalah kecenderungan akademisi yang terlalu tinggi.
Anak hanya disuruh belajar belajar belajar dan belajar. anak laki-laki tidak pernah diizinkan, misalnya, memotong rumput, mengangkat sesuatu yang berat. anak perempuan tidak diizinkan membantu ibunya memasak,  melakukan aktivitas aktivitas menjahit dan sebagainya, karena semua itu dianggap mengganggu pelajaran
kita terlalu mendewa-dewakan dunia akademik, akhirnya muncul anak-anak pintar tapi nggak jelas orientasi seksualnya, tidak jelas identitas seksualnya 
itu yang menyebabkan Kenapa mereka mereka yang lgbt punya kecenderungan cerdas cerdas dengan nilai-nilai akademik yang tinggi, prestasi-prestasi di dunia perkuliahan yang tinggi, karena mereka dari kecil memang hanya diminta belajar belajar dan belajar. ini kesalahan kita 

Tentang pondok pesantren juga begitu. anak-anak kita belum aqil baligh. mereka sudah baligh, tapi belum Aqil, dan kita begitu terburu-buru memasukkan mereka ke dalam Pesantren 
mereka belum kokoh Sebagai pribadi, belum kokoh struktur egonya,  belum Kokoh identitas dan orientasi Dirinya, tiba-tiba dia masuk ke dalam satu pendidikan satu jenis kelamin (uniseks), di mana mereka bersama-sama di dalamnya. Padahal mereka sudah memiliki hasrat hasrat seksual sebagai manusia, dan akhirnya dilampiaskan kepada sejenis

Jadi saya sangat berharap bahwa kalau kita ingin memasukkan anak-anak kita ke pesantren, masukkanlah setelah kita yakin bahwa anak kita telah dewasa, setelah akil baligh telah memiliki identitas dan orientasi diri yang jelas setelah itu terjadi,  silahkan pesantrenkan.
Kita jangan pernah menunggu-nunggu pemerintah merubah kebijakan kurikulumnya, mengurangi beban beban akademik dan sebagainya. mari kita mulai dari diri sendiri. mari kita mulai dari komunitas kita sendiri

6⃣Assalamualaikum, Ustadz

Pola asuh yang bagaimana yang dapat menimbulkan Biseks pada anak? Dan, apakah Biseks sama dengan Same Sex Attraction (SSA) ?

👳🏻Ust Aad:

Pada dasarnya perilaku biseks adalah perilaku yang lahir dari sebuah petualangan seksual. Jadi sebenarnya faktor pergaulan, faktor pola pikir lebih berpengaruh pada perilaku biseksual ini 

pada perempuan biseks biasanya lebih disebabkan karena mereka tidak mendapatkan kepuasan seksual dari lawan jenisnya, dari laki-laki. Laki-laki cenderung terlalu egois. dia hanya minta dipuaskan secara seksual, dan sebaliknya dia tidak memberikan kepuasan seksual kepada perempuan.  akibat dari kekecewaan tersebut, maka mereka mulai mencari kepuasan kepada sesama perempuan, karena mereka menganggap perempuan jauh lebih mengerti Bagaimana memuaskan perempuan lain secara seksual
Beberapa pola asuh yang dapat membuat seorang anak menjadi Biseksual adalah pengawasan yang buruk, sehingga anak menonton tayangan-tayangan porno yang menceritakan perilaku-perilaku sejenis padahal sebenarnya kecenderungan dia bersifat normal alias heteroseks 

Selain itu Perilaku biseksual itu dalam perspektif pola asuh bisa juga disebabkan karena peran-peran antara ayah dan bunda di rumah tidak jelas, begitu rancu atau misalnya ada satu peran yang hilang dalam rumah. seorang anak perempuan hanya hidup dengan ibunya, ayahnya tidak hadir karena berbagai macam alasan, sehingga dia hanya mengerti tentang perempuan, dia mencintai perempuan lain seperti dia mencintai ibunya, walaupun sistem keyakinan yang dimiliki sebenarnya adalah heteroseksual
Same sex attraction atau SSA pada dasarnya adalah perilaku homoseksual, tapi masih dalam batas batas di permukaan,  lebih kepada bersifat gaya-gayaan, eksperimentasi dan pertualangan seksual saja .
tapi jika itu diikuti terus-menerus lama-lama ya menjadi homoseks beneran.


🚪Penutup

🎤Yang terakhir mohon berkenan  Ustadz memberikan closing statement ttg

"sikap apa yang harus ibu-ibu ambil didalam menjaga putra putri menghadapi gerakan LGBT ini?"

👳🏻 Adriano Rusfi:
Para Bunda sekalian yang dirahmati Allah, yang pertama harus kita miliki adalah ridha kepada setiap anak yang Allah telah titipkan kepada kita, Apakah dia laki-laki atau dia perempuan.

Ketidakridhaan terhadap jenis kelamin anak yang telah Allah titipkan kepada kita, seringkali merupakan asal muasal pola asuh yang keliru. Kemudian yang kedua, Mari kita berhati-hati dalam memperlakukan anak, terutama pada usia dini. karena setiap trauma yang dimiliki oleh anak ketika dia masih kecil, itu memiliki dampak penyimpangan perilaku yang bermacam-macam, termasuk diantaranya adalah lgbt
yang ketiga tolong pahamkan dengan baik kepada anak tentang nilai-nilai dasar ajaran Islam, apa apa yang Allah ridha dan apa-apa Ya Allah Benci 

Dan kemudian yang terakhir Mari kita jaga pergaulan anak-anak kita. mari kita jaga tontonan anak-anak kita, dan Mari kita jaga apa apa yang didengar oleh anak-anak kita 
dan jangan lupa kita berdoa dan bertawakal kepada Allah,  karena hanya Allah yang bisa membantu dan membimbing kita menghadapi kehidupan yang semakin berat dan edan ini terima kasih.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

🎤 Alhamdulillah...terima kasih Ustadz, terima kasih teman-teman yang sdh menyimak dan menyebarkan ilmu sore ini ke seluruh grup dan sosial media yang ibu-ibu miliki.

Mari bergandeng tangan,Menata diri,  karena kejahatan yg diorganisasi dg rapi akan mengalahkan kebaikan yang tidak diorganisasi.

Saya Septi Peni, undur diri.
Sampai bertemu di forum belajar selanjutnya.

Wassalamualaykum wr.wb

Salam Ibu Profesional,

Tahukah Anda ?

Bahwa dalam artikel sebelumnya kami mengungkapkan beberapa cara untuk mencegah LGBT, salah satunya dengan membiasakan anak-anak menggunakan pakaian yang tepat sesuai fitrahnya. Jika anda memiliki anak perempuan yang tomboy, kami memiliki beberapa tips dan trik untuk membuat anak anda lebih menyukai pakaian yang sesuai fitrahnya. Klik tombol berikut untuk membaca artikel lengkapnya Mencegah LGBT

Septi Peni Wulandani

Septi Peni Wulandani

Praktisi HomeEducation dan aktif menebar inspirasi agar ibu-ibu lebih profesional dalam mendidik anak.
- Penggagas Jarimatika
- Pendiri Institut Ibu Profesional
- Abaca-baca, metode belajar membaca.
- Jari Quran, metode belajar Al Quran.
- Padepokan Lebah Putih, sekolah formal ramah anak.
- Komunitas Belajar Cantrik, komunitas para orangtua homeschooling.
https://www.facebook.com/septipw

Komentar