Merancang Karir Anak dg Membutakan Bakat

Sebenarnya ini konsumsi lokal kami di rumah, untuk anak2 sebelum menginjak usia 15th, kami tidak mengenalkan bakat dan tidak menggunakan bahasa bakat ke anak-anak. Percakapan kami jauh dari bahasa bakat, aktivitas 3B tentu harus! Beragam iya, aktivitas Berulang-ulang iya, aktivitas yang banyak Berinteraksi dg orang iya. Tapi tidak secara spesifik kami bahas menjadi sesi “kuliah bakat”.

Kami bebaskan anak-anak beraktivitas tanpa mereka harus tahu dan kenal tentang apa itu bakat, atau bakat di dirinya.
Kami mau anak-anak beraktivitas alamiah, tidak terkotakkan dengan julukan, labeling, stempel hasil tes apapun. Kami ingin anak yang teriak “aku tidak suka ini” atau teriak “Yes, aku suka ini”.
Dua anak laki-laki kami : Dio (19.5th) dan Iban (15.5th) melalui proses “buta bakat” dari 0th sampai 15th. Mereka kami “lempar” kesana kemari sesuai dengan kebutuhan tiap anak yang terbaca oleh kami. Sesekali mereka teriak :

“Aku kan anak robotik, kenapa harus magang di telur asin sih?”
“Kenapa aku harus magang di tukang bakso, emangnya aku nanti jadi penjual bakso?”
“Kenapa aku harus catur?”
“Kenapa aku harus backpacker ke sana?”

Alhamdulillah dengan proses “buta bakat” itu, tepat di usia 15th keduanya menemukan sebagian dari dirinya, yaitu bidang keberminatan. Ini bagian yang paling penting sebelum mengulik lebih dalam ke bidang keberbakatan. Dan itu menjadi modal besar mendampingi mereka ke langkah berikutnya untuk utuh menemukan potensi diri yang mana yang harus fokus ditajamkan di usia 15-17th.

Proses seperti ini yang sedang kami jalankan untuk si bungsu, Jenar (12th). Ternyata tahap “buta bakat” versi anak perempuan beda lagi….dan kami sedang belajar banyak menghargai keputusan bebas beraktivitasnya. Untuk anak moody seperti Jenar, perlu trik tersendiri menggiring aktivitas produktifnya. Durasinya singkat-singkat namun jenisnya harus banyak sekali. Pontang-panting, seru plus lucu mengikuti moodynya. Bersyukur magangnya sudah masuk tahap level 1B, backpackerannya masuk level 2A, live in baru mau masuk level 1 dll. Masih ada waktu tiga tahun menuju finalisasi bidang keberminatannya. Kami menunggu “teriakannya”….

Kalau sepanjang anak berusia 0-14th mereka kita butakan bakatnya, justru di periode itu ortu harus sangat melek bakat. Ortu dituntut membuka mata, hati dan pikiran sedalam-dalamnya. Gunakan satu saja referensi tentang bakat. Kalau saya menggunakan Talents Mapping sebagai acuan untuk mengolah bakat anak. Golden Age mengolah bakat anak itu saat anak berusia 10-14th, jangan sia-siakan periode itu. Siapkan data sejak anak berusia 6th.
Olahlah data itu menjadi kurikulum hidupnya. Namun bentuknya bukan kurikulum yang disusun di awal dan sudah final. Kurikulum hidup itu ya hidup!…artinya mengikuti kemana anak bergerak, benang merahnya yang akan menjadi final kurikulum kehidupannya, dan itu yang tidak tergantikan oleh guru di sekolah. Guru di sekolah hanya membaca sedikit dari potongan kurikulum kehidupan anak, itupun kalau guru aware.

Ketika anak berusia 15th ujilah kurikulum yg setengah jadi itu dengan menggunakan referensi lain. Kami menggunakan Talents Mapping. Hasil tesTalents Mappingnya sebagai bahasa diskusi dengan anak-anak mengambil pengalaman aktivitas sebelumnya untuk merancang karir mereka. Duduk bersama dengan suasana damai.

……ada periode anak buta bakat, namun tidak ada periode buta bakat bagi ortu✍🏻

semoga bermanfaa

===

Sumber: fb Diena Syarifa

Merancang Karir Anak dg Membutakan BakatSebenarnya ini konsumsi lokal kami di rumah, untuk anak2 sebelum menginjak…

Dikirim oleh Diena Syarifa pada Rabu, 27 Maret 2019

CantikCerdas

CantikCerdas

Produsen #RokCelanaAnak yang concern fokus terhadap permasalahan kaum hawa, saat ini kami memfokuskan diri dalam dunia anak-anak dengan semangat CantikCerdasin Indonesia WA : 0816 616 029

Komentar