Hasil Pendidikan di Rumah

Ini cerita saya menemani anak laki-laki pre aqil baligh, berproses menemukan peran hidupnya, bagaimana dengan pengalaman ayah bunda?

Septi Peni Wulandani

MENEMANI SANG COMMUNICATOR BERPROSES
Elan Jm adalah satu-satunya anak kami yang diberikan kebebasan memilih sejak kecil untuk urusan pendidikannya.(maklum, kalau untuk anak pertama dan kedua, kami masih fakir ilmu untuk urusan pendidikan anak ini, masuk kategori ibu galau banget).


Sejak masuk usia TK, Elan memutuskan untuk tidak mengambil jalur pendidikan formal. Elan lebih senang di dalam kamar mengotak-atik mainan robotnya, semua dibongkar, tapi tidak terima pasang. kami mengijinkannya. Usia 7 tahun sudah memiliki personal branding sebagai penyuka robot, disitu kami menjadi orangtua sok tahu, mungkin anak ini kelak ingin jadi ahli robot. kami ajak ke setiap aktivitas robotika, kami kenalkan dengan orang-orang yang sesama penyuka robot. Sampai Elan memiliki sebuah gagasan,
"robot itu mahal, kasihan anak desa yang tidak bisa membelinya, padahal robot memberikan pelajaran struktur berpikir yang sangat bagus"
Sekali lagi untuk urusan mentor struktur berpikir, mengkristalisasi gagasan, tehnik robotisasi, pasti bukan saya, itu tugas bapaknya. Saya hanya menemani jalan-jalan, makan-makan 

Berkat perpaduan belajar asyik dengan bapaknya, akhirnya saat Elan 10 tahun, menjalankan project based learningnya dengan nama "Robocycle" (membuat robot dari bahan sampah) dan berjalan keliling desa dengan sepedanya untuk mengajarkan bagaimana mudahnya belajar robot ke anak-anak sebayanya.Targetnya saat itu ke 50 sekolah di desa.
Seiring berjalannya waktu, ternyata saya terbukti termasuk orangtua yang SOK TAHU. Minat Elan ternyata bukan di robot, melainkan pada aktivitas "PUBLICIZING" (memberitakan sesuatu produk/layanan/informasi dengan cara yang mudah dimengerti, agar sesuatu tersebut diminati orang banyak). Darimana saya tahu? dari matanya. Elan sangat berbinar-binar saat membuat video tutorial robotnya dibandingkan membuat robot jenis baru. Ilmunya tentang hal ini melesat sangat tinggi, dibandingkan dengan ilmu robotikanya. 
Video tutorial bisa dilihat disini :


Kami jalankan mastermind untuk sarana evaluasi dan apresiasi, dan akhirnya Elan memutuskan selama menjalankan projek robocycle, aktivitas jalan-jalan ke sekolah-sekolah dg sepeda itulah justru yang membuatnya makin berbinar. Sehingga muncul project berikutnya yaitu SOBIKE (School on Bike).
Elan mulai mendokumentasikan perjalanan belajarnya dengan sepeda, bertemu langsung dengan para ahli, sampai akhirnya menemukannya dengan sang mentor Singgih Susilo Kartono.. Pertemuan dengan sang mentor ini,akhirnya menjadi jalan mewujudkan mimpi Elan Jm untuk bisa ke Jepang. Elan diminta menjadi speaker termuda di ICDS (Internastional Conference Design Sustainability) 2015, tepat di usianya yang ke 12, dengan program School on Bamboo Bike. 
Presentasi hasil karya Elan bisa dilihat disini :


Saat ini selain publicizing, elan juga sangat menyukai aktivitas presenting (menyampaikan informasi dengan cara yang mudah dimengerti orang lain), advertising dan communicating. Kami menjadi semakin paham peran hidup Elan saat ini, mungkin adalah sebagai seorang "Communicator". Kami belum tahu pasti, karena masih berproses,usianya masih 12 th.
Yang pasti khtiar terus berjalan dan akhirnya menemukan mentor-mentor handal di bidang ini, salah satunya adalah mas Harjono Halim yang selalu sabar memandu Elan untuk mendapatkan "feel" dan "tehnik" dalam setiap shoot yang diambilnya.(terima kasih mas) sehingga menghasilkan karya "moment of the truth" salah satunya adalah :


Sampailah akhirnya pada tahap belajar dalam sebuah team.Tanggal 8-10 januari 2016 ini, Elan mengambil peran sebagai videografer, belajar bersama para ahli yang lain, ada mas wilfrid, mas Aris dan mas Udin, membangun team, untuk membuat event Homecoming for Upcoming memiliki jejak sejarah yang indah. Kemudian dia buat deadline untuk dirinya sendiri, buat skenario message yang harus disampaikan, scoring music dll di studionya.
Bapaknya kali ini cukup membuatkan susu coklat, dan saya membuatkan donat untuk menemaninya editing dan rendering video.

Tahukah Anda ?

Selain Elan, ibu Septi Peni juga menerapkan HomeEducation terhadap Ara sehingga ia menjadi integrator peternak sapi disebuah desa, dan memulai project MooProject dari umur 11tahun. Bagaimana HomeEducation yang diterapkan kepada Ara? simak kisahnya dengan klik Ara, muda dan kreatif

Ara diundang di TransTV dalam program LIVE with TrioLestari, anda bisa menonton rekaman video acara ini dengan klik Ara, LIVE TransTV

Sebelumnya, Ara dan Elan pernah di undang di acara yang sama bersama Anies Baswedan (Mendikbud). Saat LIVE di TransTV Anies Baswedan salut dengan pola pengasuhan dan pendidikan yang dilakukan ibu Septi Peni. Apa yang membuat Mendikbud salut? temukan jawabanya saat anda menonton sendiri rekaman acara tersebut dengan klik Anies Baswedan

HEbaT

HEbaT

Grup HEbAT (Home Education Based on Akhlaq and Talents) adalah Grup tempat saling belajar dan berbagi mengenai pendidikan yang memang sudah semestinya dijalankan keluarga dalam rumah. Pendidikan yang menumbuhkan fitrah, bukan mematikannya.
Bapak Harry Santosa (Praktisi HE sejak 1994 sekaligus founder MLC)
Ibu Septi Peni Wulandani (Praktisi HE sejak 1996, sekaligus founder IIP)
Bapak Adriano Rusfi, S.Psi (Praktisi HE, konsultan Pendidikan & PPSDM)

Komentar