Ilmu Pendidikan Anak di film Bohemian Rhapsody

Freddy sadar pentingnya keluarga… Maka ia usir manajernya dari limo-nya kala menawarinya bersolo karir dengan tawaran menggiurkan. Tapi toh ia menyerah juga saat tawaran itu bernilai 4 Juta Dollar US. Ia pindah ke Munich bersama kru yang mematuhi segala maunya. Tapi yang ia dapati hanyalah musik sekelas klub malam.

KELUARGA BOHEMIAN BERNAMA QUEEN

by Adriano Rusfi

Awalnya ia bernama Farrokh Bulsara, darahnya Persia – India dan beragama Zoroaster. Namun ia anti kemapanan. Ia terus bergerak _across the boundaries_ : menabrak semua batas. Ia ganti namanya dengan Freddy Mercury, lalu ia membangun keluarga baru bersama Brian May, Roger Taylor dan John Deacon.

Ini memang sebuah keluarga, bukan semata pertemanan. Mungkin sebuah keluarga Bohemian yang liar, anti kemapanan, selalu berpindah dan menabrak sekian banyak pakem. Ia namakan keluarga baru ini dengan Queen. Queen adalah sebuah visi keluarga : agar orang hormat kepada mereka bak ratu.

Selayaknya keluarga, mereka memang lebih banyak bertengkar dibandingkan dalam pertemanan. Pertengkaran dalam keluarga adalah untuk saling menguatkan, saling mengisi, dan saling didik untuk menghadapi kerasnya kehidupan di luar sana.

Itu yang membedakannya dengan pertemanan yang ikatan aslinya memang rapuh, sehingga lebih memilih untuk berdiam diri dan mengalah. Maka, siapapun yang ingin berkeluarga, siap-siaplah bertengkar : suami dengan istri, kakak dengan adik. Freddy bahkan hampir adu jotos dengan dengan Roger, karena Feddy muda adalah seorang petinju.

Namun bagi keluarga pertengkaran adalah urusan dalam rumah. Di luar, mereka akur dan satu visi-misi. Di dalam, mereka sengit tentang sebuah album yang bak opera : A Night at The Opera. Freddy memaksa sebuah gagasan, namun akhirnya Roger Taylor membantunya dengan lengkingan opera, sedangkan Brian May pasrah mencabik gitarnya demi sebuah rasa konser.

Sayang, Jim Beach, sang produser, tak sepakat. Lalu keluarga ini kompak tinggalkan ruangan, tanpa perselisihan. Dari luar, mereka lempari kaca ruang manajer dengan batu. Mereka ingin jebol batas kaca, karena mereka adalah Sang Ratu.

Freddy Mercury adalah anak bengal paling liar dalam keluarga itu, karena ia menganggap Queen adalah dirinya. Lalu Roger Taylor lewat kebijakan yang sengit menamparnya dengan telak :

“Jika Queen adalah kamu, silakan kamu yang main drum”

Freddy terperangah. Ia liar, karena dialah satu-satunya dari anggota Queen yang tak punya keluarga biologis. Ia tinggalkan ayah, bunda dan adiknya, lalu ia pacari Mary Austin tanpa ruh : hanya lewat telfon, atau lewat kedipan-kedipan lampu jarak jauh. Ya, keluarga memang penuh pertengkaran. Tapi keluarga jugalah yang menjinakkan hati dan menenteramkan jiwa.

Freddy sadar pentingnya keluarga… Maka ia usir manajernya dari limo-nya kala menawarinya bersolo karir dengan tawaran menggiurkan. Tapi toh ia menyerah juga saat tawaran itu bernilai 4 Juta Dollar US. Ia pindah ke Munich bersama kru yang mematuhi segala maunya. Tapi yang ia dapati hanyalah musik sekelas klub malam.

Ia bekerja keras siang-malam mencari nafkah, tapi ia lupakan keluarga. Ia tak menerima telpon dari Mary, dan tak tahu ajakan Bob Geldorf untuk donasi suara bagi Afrika. Freddy terlalu bohemian untuk cepat sadar : keluarga bukanlah orang yang mengikuti maunya kita… keluarga adalah yang mengisi kekurangan kita, dan mengangkat kelebihan kita.

Nasihat Mary dan siraman hujan akhirnya mengingatkannya : Queen bukanlah suara dahsyat Freddy Mercury yang didukung oleh gitar Brian May, bass John Deacon, dan drum Roger Taylor. Queen bukanlah tentang lagu… Queen adalah tentang musikalitas… Inilah sejatinya keluarga. Queen lah yang legenda, bukan Freddy Mercury.

Ia pulang kepada keluarganya, bahkan kepada keluarga biologisnya, sebelum tampil di sesi terakhir Live Aids di Stadion Wembley yang nyaris meledak. Sebelumnya ia sempat mengakui sebuah tragedi ketika ia menerabas benteng aman keluarga : ia mengidap AIDS !!!

Kulihat Film berdurasi 2 jam 11 menit itu baru terputar 1 jam 52 menit ketika pramugari mengumumkan jika pintu pesawat telah dibuka. Aku merutuk dalam hati untuk tiga hal : merutuk bahwa film tak kutonton hingga selesai… Merutuk tentang mereka yang ingin menghancurkan pondasi keluarga lewat L68T… Merutuk tentang pendukung RUU P-KS yang ingin menerobos pintu sakral keluarga atas nama Penghapusan Kekerasan Seksual.

Percayalah, tanpa keluarga segalanya akan berakhir tragis… Keluarga itu seperti lirik Bohemian Rhapsody : tak mudah dimengerti, tapi begitu berarti. Mama… Uuuuhhh…

IIP

IIP

Institut Ibu Profesional (IIP) adalah komunitas para ibu dan calon ibu yang selalu meningkatkan kualitas diri dan keluarganya dengan ilmu yang bermanfaat.Sehingga bisa Menjalankan aktivitas keluarga secara profesional. Web : www.ibuprofesional.com
Email: ibuprofesional@gmail.com
Telp: 0888 2500 440

Komentar