LIMA TALI PENGIKAT HUBUNGAN SUAMI ISTRI

Jika ada salah satu atau beberapa ikatan kendor, maka segera kencangkan. Jangan mengabaikan tanda, jangan merasa jumawa apalagi cuek saja. Karena dari hancurnya pernikahan, setan merusak jantung peradaban manusia!

Oleh : Ninin Kholida

Tidak ada ikatan antarmanusia di muka bumi ini yang diikat lebih kuat dari hubungan suami istri. Pengikatnya bukan hanya 1 tapi setidaknya 5 sekaligus.

Bahkan dalam alqur’an hubungan suami istri disebut dengan mitsaqon ghalidza. Tidaklah hubungan suami istri putus kecuali lepas satu persatu tali temalinya hingga tak lagi mampu menegakkan tiang Penyangga pernikahan.

🔗Tali Pengikat Pertama : Ikatan Iman
Pernikahan adalah hubungan antarmanusia yang dihalalkan atas nama ALLAH. Hal inilah yang membuat ikatan pernikahan menjadi sangat kuat karena melibatkan iman dan ketaatan pada Rabb semesta alam. Ikatan Iman dan aqidah inilah yang mendasari sahnya hubungan pernikahan dan dianjurkan menjadi motivasi utama dalam pernikahan.

Seorang laki-laki bertanya kepada Hasan bin ‘Ali, “Saya punya seorang putri, siapakah kiranya yang patut jadi suaminya ?”

Hasan bin ‘Ali menjawab, “Seorang laki-laki yang bertaqwa kepada Allah, sebab jika ia senang ia akan menghormatinya, dan jika ia sedang marah, ia tidak akan berbuat zalim kepadanya”.

Keindahan Pernikahan bisa dinikmati sepaket dengan tunainya hak,kewajiban dan terpenuhinya peran suami-istri dengan benar dan adil. Orang-orang yang menggenggam erat iman dalam pernikahannya yakin akan adanya pengawasan, pertolongan sekaligus pertanggungjawaban pada Allah SWT karena itu ia akan bersungguh-sungguh menjaga dan menjalankan amanah sekaligus sumpahnya saat menikah. Pernikahan seharusnya jadi tangga naik ke puncak iman yang lebih tinggi dengan meraih keberkahan yang Allah janjikan hingga jannahNya.

Akan rapuh sekali pernikahan yang dibangun di atas iman yang koyak, mengabaikan hukum-hukum ALLAH dan melalaikan ibadah kepadaNYa. Mangkir dari kewajiban, tak memenuhi hak, dzalim, dosa dan maksiat akan menyebabkan tali-temali iman yang mengikat pernikahan menjadi longgar. Bahkan jika tali Iman lepas dengan murtadnya salah satu pasangan, maka otomatis pernikahan pun menjadi batal, tak lagi halal dilanjutkan.

🔗Tali Pengikat Kedua : tujuan dan misi pernikahan
Seumpama biduk, kejelasan tujuan dan misi pernikahan membuat keluarga akan mantap berlayar mengarungi kehidupan. Mereka tahu tujuan akhir dari perjalanan mereka, paham apa yang sedang diperjuangkan bersama. Bukan sekedar mengulang rutinitas dan mendapatkan simbiosis mutualisme. Pasangan yang telah menemukan misi spesifik atas berjamaahnya mereka dalam pernikahan akan lebih tangguh menghadapi badai.

Mereka sadar bahwa pernikahan bukan hanya perjuangan membebaskan diri dari kesepian sehingga punya anak dan lebih banyak anak lagi. Bukan hanya kerja keras untuk lepas dari kemiskinan sampai punya rumah, kendaraan atau status sosial yang lebih tinggi.

Mereka yang telah menemukan misi mulia pernikahannya tak lagi memperjuangkan kenyamanan dan kesejahteraan pribadi saja, namun memperluas manfaat keberadaan mereka dengan menjejakkan sebanyak mungkin jariyah di muka bumi. Karena itulah tali pondasi pernikahan mereka mengakar dari bumi hingga ke langit. Mereka kuat bukan karena hebat, namun buah kebaikan mereka membuat banyak doa mengalir ke rumah cintanya. bukan hanya dari penduduk bumi, tapi juga dari penduduk langit yang tinggi.

Apakah kebaikan dan kemanfaatan telah menjadi fokus yang sedang diperjuangkan dalam keluarga anda ? Sekuat itulah tali ini mengikat anda sekeluarga.

🔗Tali Pengikat Ketiga : hukum Negara dan norma sosial
Pernikahan adalah akad yang dibangun atas dasar kesadaran dan kerelaan dua belah pihak. Tidak boleh ada paksaan atau kebencian yang mendasari awal hubungan pernikahan. Dua orang yang membangun pernikahan harus menempuh jalan yang serius dan sungguh-sungguh, ada banyak syarat dan rukun yang harus dipenuhi. Karena itu, Pun tak boleh bercanda atau bermain-main dengan ucapan khitbah dan talak.

Karena menyatukan pula dua keluarga, menjadi pilar institusi sosial, maka pernikahan utama diumumkan secara sosial dan diresmikan secara Negara. Tak patut jika pernikahan sah disembunyikan atau dianggap aib yang tak boleh terbongkar. Pernikahan adalah kegembiraan yang perlu disyukuri dan dirayakan.

Hal ini bukan hanya mendapatkan legalistas dan tertib administrasi, agar Negara bisa hadir pula melindungi dan mencegah jangan sampai kezhaliman terjadi di dalam rumah atas nama pernikahan. Begtu pula saat pernikahan berakhir, keduanya harus menempuh jalan panjang dan tahapan resmi, bukan sekedar berpisah seenak hati. Ada banyak urusan muamalah yang harus diatur, bukan hanya tentang harta gono-gini, tapi juga ada hak anak-anak yang harus dilindungi.

Meskipun sah secara agama, jika ada yang mau dinikahi, tapi tak bisa memiliki buku nikah resmi tolong pikir-pikir lagi!. Karena segala kemungkinan bisa terjadi di kemudian hari.

🔗Tali pengikat keempat : kontak fisik, halalnya kemaluan dan tegaknya nasab
Lelaki dan perempuan yang sebelumnya bukan mahram, hanya boleh melakukan kontak fisik jika sang lelaki telah menjabat tangan ayah/walinya dengan ijab qabul pernikahan.

Tak ada celah, jangankan menyentuh … pandangan pun harus ditundukkan dengan penuh izzah dan kesadaran akan buah dosa bersebab kagumnya mata.

Laa taqrobuz zinaa. Tutup semua pintu yang mengantarkan pada zina. Karena hubungan seksual laki-laki dan perempuan HANYA BOLEH DISALURKAN DALAM PERNIKAHAN. JALAN SELAIN ITU HARAM dan TERCELA.

Islam sangat menjaga agungnya hubungan seksual dalam pernikahan ini dengan jalan terhormat, mulia lagi berpahala dan berlangsung dalam lembut dan ma’rufnya cara. Bukan sekedar melampiaskan syahwat semata.

Karena itu islam memastikan bahwa sperma tak boleh sembarang tercecer kecuali pada liang istrinya yang sah. Karena lewat wasilah jima’lah akan lahir manusia penerus nasab dan peradaban manusia.
Jika melanggar ketentuan ini, tak perlu bertanya apakah perlu bersabar mempertahankan pernikahan ataukah berdamai di atas kertas bermaterai 6 ribu rupiah.

TEGAS islam mengatur bahwa pasangan yang sudah menikah dan terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan zina muhshan maka hukumannya bukan lagi penjara. Tapi taubat dan dipendam badan hingga dada di dalam tanah, disaksikan masyarakat, dirajam dengan cara dilempari kepalanya dengan batu-batu hingga wafat. Kata para ulama “agar ia merasakan sakitnya dari ujung kepala hingga kaki, sebagaimana ia dulu menikmati dosa zina dari ujung kepala hingga kakinya”. Tentu saja hal ini baru bisa terlaksana jika ulil amrinya menegakkan syariat Allah. Tapi tak berarti jika tak tegak syariat, dosanya jadi lebih ringan sehingga bisa diabaikan.

Sedemikian kerasnya balasan atas dosa zina terutama pada pasangan yang telah menikah, bahkan imam syafi’I mengatakan jika ditanya tentang zina: bala’… bala’.

Keburukan zina akan menimpa bukan hanya pelakunya, tapi juga menjadi hutang yang bisa menimpa anak keturunannya, bahkan membuat tikus-tikus di liang rumahnya gelisah bersebab doza zina yang dilakukan penghuninya. Jangan main-main!.

Bahkan orang yang secara emosional menuduh perempuan baik-baik berzina, sebelum mendatangkan bukti yang kuat dan akurat, maka mereka juga harus dihukum tegas sebagaimana tertera dalam Qur’an surat an-Nur ayat 4-5, juga pada ayat 23-25. Menuduh orang berzina harus dengan bukti, bukan prasangka ! Kehormatan dan harga diri itu harus dijaga dan dilindungi.

🔗Tali Pengikat Kelima : hubungan emosional (bounding/attachment)
Hubungan suami istri dalam pernikahan sangat unik dan subjektif, hanya mereka berdua yang benar-benar tahu rasanya. Cinta tidak terletak di kepala, tapi dalam hati manusia.

Karena itu kadang tak bisa dimengerti hanya dengan kepandaian logika, tapi perlu menghadirkan rasa yang mampu saling menggetarkan jiwa.

Pernikahan adalah seni bertahan dan tumbuh bukan hanya dalam keadaan suka atau bahagia, tapi menikmati riak duka, kesempitan dan ketaksesuaian selera. Pernikahan bukan hanya tentang gairah meledak dengan intensitas yang tinggi, namun kesetian untuk terus memberi secara konsisten. Jangan gampang tergoda dg yg baru datang lalu mengabaikan pasangan yg sdh teruji dan terbukti.

Pernikahan tentang kepahaman, penerimaan, respect, saling percaya, komunikasi dan berdamai dengan ketidaksempurnaan diri untuk waktu yang lama. Pernikahan mensyaratkan sabar dan syukur sekaligus.

Pernikahan merangkum kenangan, kenyataan hari ini dan harapan tentang masa depan. Sepanjang itulah nafas pernikahan dibutuhkan, dengan pembuktian-pembuktian.

Dengan lima simpul ikatan itu, seharusnya bangunan pernikahan tegak berdiri.

Karena pernikahan yang barokah adalah benteng terkuat bagi penghuninya untuk bertahan dan tumbuh membesar bersama kebaikan.bukankah salah satu amanah besar pernikahan adalah “jagalah dirimu dan kelurgamu dari api neraka!”

Bahagianya pernikahan memang akan terputus oleh maut juga, namun bisa bersambung kembali cinta lewat jariyah yang tak putus hingga anak cucunya. Barokah pernikahan membuat penghuninya makin termotivasi mendapatkan surga yang sesungguhnya. Bertemu kembali penuh rindu dan keridhaan RabbNya.

Jika ada salah satu atau beberapa ikatan kendor, maka segera kencangkan. Jangan mengabaikan tanda, jangan merasa jumawa apalagi cuek saja. Karena dari hancurnya pernikahan, setan merusak jantung peradaban manusia!

Mari kembali perkuat benteng peradaban manusia dari rumah kita….. laa hawlaa walaa quwwata illa billah

IIP

IIP

Institut Ibu Profesional (IIP) adalah komunitas para ibu dan calon ibu yang selalu meningkatkan kualitas diri dan keluarganya dengan ilmu yang bermanfaat.Sehingga bisa Menjalankan aktivitas keluarga secara profesional. Web : www.ibuprofesional.com
Email: ibuprofesional@gmail.com
Telp: 0888 2500 440

Komentar