Jalan Bahagia Mendidik Anak

Kelaaak, jadilah sahabat anak. jangan jadi orang tua yang penuh amarah ketika kelak anak jujur melakukan kesalahan. Sehingga anak akan tetap jujur dan lari kepada kita sebagau orang tuanya, apa pun yang ia lakukan.

Bagaimana agar bahagia mendidik anak-anak kita?

Kuncinya adalah

“Jadikan rumah kita sebagai surga, lihat apa yang kita temukan di rumah sebagai kebahagiaan”

Contoh,
bila ayah atau ayah dan ibu bekerja dari pagi sampai petang. Tentu saja akan ada rasa lelah melanda, kemudian berharap pulang ke rumah akan istirahat dengan damai. Ternyata, pas sampai rumah, anak A berulah mengambil telor dari kulkas kemudian pecah dan anak B merengek karena mainannya direbut oleh anak C.

Apakah iya, akan bisa istirahat? Apakah iya akan ditemui surga di rumah? Bukankah kepala tambah pusing bila yang ditemui di rumah adalah kejadian-kejadian sejenis itu?

Nah, Ustadz Abul abbas Thobroni (dalam kajian di majelis ta’lim ba’da dzuhur di Masjid As-shaf)memberi petuah pada kita agar kita sendiri yang menghadirkan surga di rumah.
Caranya bagaimana?

Pertama,

Perbanyak khusnudzon pada anak.

Bila kita bisa, itu artinya kita juga khusnudzon pada Allah. Karena Alloh sesuai prasangka hambaNya. Jika baik prasangkanya, maka Allah akan baik pada kita. Juga sebaliknya

Jadi, berprasangka baiklah 🙂

Karena tak ada ciptaan Allah yang sia-sia, yang tidak pas, tidak bagus. Tak ada. Semuanya bagus, pas, dan ada maksudnya.

Maka, tatap anak dengan kacamata positifnya.

Selama kita melihat dengan kacamata negatif anak, maka tak akan bisa kita berkhusnudzon pada Allah, pasti akan selalu suudzon pada Alloh, stress, pusing, dst.

Lihat kemungkinan di masa depan, kenapa anak kita begini, oh mgkn kelak akan jd ustadz, oh mungkin kelak akan jd pemimpin, oh mungkin kelak akan jadi profesor, dsb.

Contoh kasus: anak cerewet tak henti-hentinya bertanya dan bercerita. Kalau dilihat dengan kacamata negatif maka ibu akan stress kenapa anaknya tak bisa diam bikin pusing dan malu orang tua. Tapi kalau dilihat dari kacamata positif maka ibu akan tersenyum dan bahagia dengan membayangkan kemungkinan anaknya akan menjadi pembicara hebat di masa depannya.

Lihatlah, betapa ucapan orang tua juga adalah doa. Mana yang menguntungkan, mendoakan anak kebaikan atau karena kita stress maka keluar kalimat negatif sebagai doa untuk anak? Betapa kasihan anak kita yang akan menanggungnya hanya karena kita salah berucap.

Poin ini, intinya adalah jangan lihat tingkah anaknya, tapi lihat Allah sebagai penciptaNya, mungkin Allah punya rencana baik untuk anak kita. Maka berkhusnudzonlah.

Kedua,

Yakinlah Anda adalah guru terbaik untuk anak Anda.

Karena anak Anda mahal, Allah sudah seleksi siapa yang akan dititipkan anak Anda itu. Andalah yg terpilih oleh Allah. Karena Allah tahu Anda guru terbaik untuknya.

Tidak ada pilihan untuk lepas bagi manusia, karena Allah yg memilih, Allah pasti memilihkan yang terbaik untuk kita.

Misalnya, kita punya dua anak perempuan, mungkin kita bertanya kenapa belum dikasih anak laki-laki?
Dalam hal ini, yakinlah bahwa hal ini karena Alloh yang lebih tahu kemampuan kita. ALLAH yg memilihkan, tepat, tak sembarangan, dan itu yg terbaik versi Alloh. Tak mungkin pilihan Alloh meleset.

Jd kita bahagia dan bersyukur.

Misalnya lagi, kita adalah salah satu dari pasangan suami istri yang belum dikaruniai anak. Sudah berusaha segala macam cara namun belum juga diamanahi anak. Maka yakinlah bahwa mungkin saja kita belum layak menjadi orang tua, makanya belum dititipi anak. Dengan begitu kita akan bersyukur dengan kondisi sekarang, dan selalu berkhusnudzon pada Alloh.

Ketiga,

Yakin bahwa anak kita itu spesial dan hebat.

Anak kita luar biasa. Nggak usah mengubah-ubah. Bersamai saja, dia sudah hebat. Fitrahnya sudah baik.

Fitrah itu berisi (seperti gelas yg sudah berisi). Bukan gelas kosong. Bukan kertas kosong.
Jadi tugas kita menjaga isinya, dan membersamai agar fitrahnya tumbuh dan berkembang.

Karena mendidik itu bukan mengisi, bukan menjejali.

Lalu apa saja fitrah itu?

A. Fitrah iman, mereka diciptakan cinta Allah, Rosullah, dan Alquran.
Jadi, kalau mereka nggak cinta pada ketiganya, pasti ada yang merusak fitrahnya.
Siapa? Jangan-jangan kita, orangtuanya.

B. Fitrah belajar, mereka tak pernah putus asa dalam belajar.
Mereka pembelajar tangguh.

C. Fitrah bakat.
Yakni potensi untuk kelak dia bekerja.
Seperti kapak. Ada 2 sisi, tajam dan tumpul.
Sisi tajam itu bakat, potensi.
Sisi tumpul itu kelemahan.
Yg diasah yg mana coba, hayooo???

Jadi, fasilitasi agar anak belajar sesuai potensi, maka anak akan bahagia, menguasai yang dia kuasai. Menguatkan potensi dia saja.

Keempat,
Setiap kita sudah dibekali dengan fitrah keayahibuan.

Kelak di akhirat akan ditanya :

  1. Kepada orang tua, bagaimana merkea mendidik anak? Yang merupakan kewajiban orang tua.
  2. Kepada anak, bagaimana dia birrul walidain? Yang merupakan kewajiban anak.

Terakhir, yang penting usaha kita, hasilnya, anak kita akan seperti apa, serahkan pada Allah.

Allah tak akan mencela kita atas hasil, bila kita sudah berusaha keras, sudah berjuang untuk mendidik mereka.

Kelaaak,
Jadilah sahabat anak.

Jangan jadi orang tua yang penuh amarah ketika kelak anak jujur melakukan kesalahan. Sehingga anak akan tetap jujur dan lari kepada kita sebagau orang tuanya, apa pun yang ia lakukan.

Penulis : Elok
Editor : Lidya
Sumber : Artikel Harian IP Tangsel
Kamis, 7 Maret 2019

IIP

IIP

Institut Ibu Profesional (IIP) adalah komunitas para ibu dan calon ibu yang selalu meningkatkan kualitas diri dan keluarganya dengan ilmu yang bermanfaat.Sehingga bisa Menjalankan aktivitas keluarga secara profesional. Web : www.ibuprofesional.com
Email: ibuprofesional@gmail.com
Telp: 0888 2500 440

Komentar