Keluarga Homeschooling saat LIVE di TransTV

Project Based Learning memungkinkan anak-anak belajar pada kehidupan real, belajar berorganisasi, belajar caranya belajar, belajar mencari sumber belajar dan bahkan belajar gagal

Septi Peni Wulandari

Project Based Learning


Saat mendapatkan undangan dari Trans TV untuk membawa anak-anak siaran live Trio Lestari show, hanya Elan dan Enes yg bisa saya ajak. Karena Ara sedang memulai debut usaha pertamanya di daerah jogja dan bali.

Di sana saya ditanya oleh Glenn Fredly (penyanyi) sebagai salah satu host acara tersebut tentang kurikulum yang kami pakai dalam mendidik anak-anak di rumah serta bagaimana cara mereka belajar.

Saya bilang "semua anak unik", jadi kesalahan fatal pendidikan kita adalah "menyeragamkan" semua anak dalam proses belajarnya.

"Customized Curriculum" sebenarnya yang paling tepat digunakan dalam mendidik anak-anak. Kurikulum belajar yang menyesuaikan dengan masing-masing "kekuatan anak". Sehingga keluargalah sebagai institusi pertama yang sangat mungkin menjalankannya.

Bagaimana dengan sekolah? kalau ada pasti mahal, karena diperlukan tenaga pendidik yang banyak dan dengan keahlian beragam.

Tapi dengan "Community Based Education" semuanya jadi mungkin. Anak-anak akan belajar memetakan "kekuatan dirinya" terlebih dahulu kemudian berkolaborasi dengan anak-anak yang "berbeda kekuatan" dengan dirinya untuk membuat sebuah project bersama. Inilah yang disebut sebagai belajar berbasis pada project (Project Based Learning)

Dalam mendidik Enes Kusuma, Ara Kusuma dan Elan Jm kami menerapkan project based learning ini sejak mereka memasuki pra aqil baligh akhir (sekitar usia 10 th ke atas). Enes dengan SEMI (Save the Earth More Intensive), Ara dengan Moo's Projectnya. Dua project ini yang mengantarkan mereka berdua terpilih sebagai Ycm Ashoka (Young Changemaker) pada tahun 2008 (unt ara di usia 11 th saat itu) dan Young Changemaker Ashoka 2009 (unt enes, di usia 13 th saat itu), kemudian Elan dengan Robocycle dan Sobike project yang mengantarkannya ke Jepang menjadi speaker termuda di @ICDS( international Conference Design for Sustainability) 2015 Japan, tepat di saat usianya 12 th.

Project Based Learning memungkinkan anak-anak belajar pada kehidupan real, belajar berorganisasi, belajar caranya belajar, belajar mencari sumber belajar dan bahkan belajar gagal.

Project Based Learning juga memungkinkan anak-anak untuk memahami kebutuhan subject materi yang harus dia dapatkan untuk menunjang keberhasilan projectnya. Bukan dibalik seperti kebanyakan sekolah saat ini. Anak-anak dijejali dengan berbagai macam pelajaran, telan saja, tidak peduli hal tsb menjadi kebutuhan dirinya atau tidak.

Kalau anda sanggup maka segera kerjakan sendiri dalam keluarga kecil anda tanpa harus menunggu orang lain. Kalau tidak sanggup maka kita harus berkolaborasi antar keluarga dalam "Community Based Learning" untuk menjalankan project secara bersama.

There is NO Try, DO or DO Not

Tahukah Anda ?

ibu Septi Peni menerapkan HomeEducation terhadap Elan, sehingga ia mampu menjadi pembicara termuda dalam event ICDS di Jepang, bagaimanakah penerapan HomeEducationpada Elan? simak kisahnya dengan klik Elan, SoBIKE

Selain Elan, ibu Septi Peni juga menerapkan HomeEducation terhadap Ara sehingga ia menjadi integrator peternak sapi disebuah desa, dan memulai project MooProject dari umur 11tahun. Bagaimana HomeEducation yang diterapkan kepada Ara? simak kisahnya dengan klik Ara, muda dan kreatif

HEbaT

HEbaT

Grup HEbAT (Home Education Based on Akhlaq and Talents) adalah Grup tempat saling belajar dan berbagi mengenai pendidikan yang memang sudah semestinya dijalankan keluarga dalam rumah. Pendidikan yang menumbuhkan fitrah, bukan mematikannya.
Bapak Harry Santosa (Praktisi HE sejak 1994 sekaligus founder MLC)
Ibu Septi Peni Wulandani (Praktisi HE sejak 1996, sekaligus founder IIP)
Bapak Adriano Rusfi, S.Psi (Praktisi HE, konsultan Pendidikan & PPSDM)

Komentar